Gula Merah

Koperasi Pertanian Korea Selatan

54420

Koperasi Pertanian National Agricultural Cooperative Federation (NACF) Korea Selatan

Pembangunan koperasi pertanian di Korea Selatan benar-benar dimulai dari atas (top-down approach) melalui pembentukan NACF (1961) oleh pemerintah militer sebagai koperasi pertanian tingkat nasional yang kemudian baru dibentuk koperasi-koperasi pertanian tingkat primer.

Seiring dengan perubahan totaliter ke demokrasi (1987) maka struktur organisasi koperasi pertanian Korea Selatan yang sejak awal pendiriannya dikendalikan oleh pemerintah berubah menjadi organisasi ekonomi yang demokratis. Yang kepengurusan maupun kebijakan usahanya ditentukan oleh anggotanya sendiri.

Dalam kondisi organisasi yang demokratis serta mendapatkan dukungan pemerintah, maka koperasi pertanian Korea Selatan yang sejak awal hingga saat ini tetap setia sebagai koperasi pertanian dapat mengembangkan usaha pelayanan dalam berbagai bidang: produksi, pemasaran, distribusi serta jasa keuangan (perbankan dan asuransi), tanpa melupakan faktor pendukungnya berupa pendidikan dan media massa. Dengan volume usaha sebesar USD 24.687 juta dan aset sebesar USD 199.783 juta (2005), dalam daftar Global 300 ICA, NACF menempati peringkat 4.

Meskipun koperasi di kalangan para petani Korea Selatan sudah dikenal pada awla abad 20, tetapi koperasi pertanian seperti yang kita kenal pada saat ini, baru dimulai pada 1961, yaitu saat pembentukan NACF yang merupakan gabungan antara koperasi-koperasi pertanian yang telah dibentuk oleh para petani sendiri dengan Bank Pertanian. Prakarsa pembentukan NACF ini dilakukan oleh pemerintahan militer sebagai sarana pembangunan ekonomi di pedesaan.

Langkah NACF selanjutnya, dengan menggunakan sumber daya manusia koperasi-koperasi pertanian dan Bank Pertanian, adalah turun ke desa-desa untuk membentuk koperasi-koperasi pertanian tingkat primer. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa pengembangan koperasi pertanian Korea Selatan didasarkan pada pendekatan dari atas.

Meskipun prakarsa pengembangan koperasi pertanian lebih banyak dilakukan oleh pemerintah, lambat laun timbul kesadaran di kalangan petani, bahwa nasib perkembangan koperasi akan lebih banyak ditentukan oleh mereka sendiri. Dengan dasar pemikiran ini, maka pada tahun 1965 para petani anggota koperasi memprakarsai bangkitnya Gerakan Petani Baru dengan tujuan meningkatkan pernan petani sebagai pelaku utama dalam gerakan koperasi pertanian. Gagasan ini baru terwujud pada saat terjadi perubahan sistem pemerintahan dari pemerintahan militer/ otoriter ke pemerintahan demokrasi pada tahun 1987. Seiring dengan iklim demokrasi dalam politik negara, para petani anggota koperasi yang didukung oleh para cendekiawan dan para ahli juha menginginkan sistem demokrasi dalam manajemen Koperasi Pertanian Korea Selatan. Oleh desakan dari bawah ini, NACF kemudian menyelenggarakan seminar dan lokakarya, sejak pertengahan paruh kedua tahun 1987 hingga akhir tahun 1988. Hasilnya cukup fenomenal, undang-undang yang menyatakan bahwa pengurus koperasi pertanian ditunjuk oleh pemerintah dihapus, dan berdasarkan undang-undang yang baru para petani anggotanya dapat memilih sendiri ketua/ pengurus koperasi primernya. Demikian pula Presiden/ Ketua NACF yang semula ditunjuk oleh Presiden Korea Selatan atas rekomendasi Menteri Pertanian dan Kehutanan, berdasarkan undang-undang yang baru dipilih langsung oleh para Ketua Koperasi Pertanian Primer. Bahkan berdasarkan Undang-undang tahun 1994, Ketua NACF harus dari petani anggota koperasi. Demikian pula kepengurusan koperasi primer, yang semula ditunjuk pemerintah mulai saati itu dipilih langsung oleh anggota petani. Pemilihan pengurus secara langsung oleh anggota ini mulai dilaksanakan sejak 1990.

Selain di bidang kepengurusan, demokratisasi (boleh juga disebut deofisilisasi) juga terjadi pada penunjukan auditor NACF, yang semula ditunjuk oleh Menteri Pertanian dan Kehutanan, sekarang dipilih oleh ketua-ketua koperasi primer, sehingga bisa lebih independen. Sedangkan CEO (Chief Executif Officer) NACF yang semula ditunjuk oleh Presiden NACF dengan persetujuan Menteri Pertanian dan Kehutanan sekarang tetap ditunjuk oleh Presiden NACF tetapi dengan persetujuan Rapat Anggota. Perencanaan usaha dan anggaran yang semula harus dengan persetujuan Menteri Pertanian dan Kehutanan sekarang tak lagi demikian, kecuali untuk bantuan pemerintah, masih harus dengan persetujuan Menteri.

Sikap otonom dan kemandirian Koperasi Pertanian Korea Selatan juga ditunjukan terhadap perdagangan bebas, yang dinilai sangat merugikan petani anggotanya. Sikap ini dibuktikan ketika pada tahun 1991 koperasi mengumpulkan tiga juta tanda tangan anggota dan masyarakat dari seluruh Korea Selatan, dan kemudian pada tahun 1993 koperasi mengirimkan delegasi ke Jenewa untuk memprotes perdagangan bebas, saat berlangsung sidang terakhir Putaran Uruguay.

Status otonom yang disandang koperasi pertanian ini juga berpengaruh positif pada pengembangan usahanya, sehingga untuk dapat melebarkan sayap usahanya, seperti dalam transportasi, usaha perbankan, investasi ke perusahaan-perusahaan terkait dengan pertanian serta diversifikasi investasi dana-dana surplus NACF, dilakukan secara mandiri oleh koperasi.

Perkembangan Organisasi dan Usala Pelayanan

Dari segi organisasi/ kelembagaan, koperasi pertanian Korea Selatan selalu berupaya untuk terus meningkatkan efisiensi melalui restrukturisasi. Jika pada awal pembentukannya terdapat 21.239 koperasi primer, dengan anggota rata-rata 105 orang, pada 1968 diciutkan melalui merjer menjadi 16.089 koperasi dengan anggota rata-rata 139 orang. Sedangkan pada tingkat skunder (thownship level) dari dua koperasi menjadi 72 koperasi. Pada tahun 1968 itu, kegiatan koperasi-koperasi primer hanya terbatas pada pemberian pinjaman untuk modal-modal pertanian dan pembahian pupuk, terutama koperasi sekunder bergerak dalam kegiatan pelayanan kredit, asuransi, proyek-proyek pengembangan dan kosultasi.

Dalam upaya untuk terus meningkatkan efisiensi pelayanan kepada anggota petani, restrukturisasi organisasi terus dilakukan. Pada tahun 1973 koperasi-koperasi primer tinggal 1500 dengan rata-rata anggota per koperasi sebesar 1400 orang (dari sebelumnya 139 orang pada tahun 1968). Pada periode ini koperasi-koperasi primer mulai dilibatkan dalam penyaluran kredit serta pengembangan waserda yang menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi anggota. Mulai tahun 1971, koperasi-koperasi primer dikembangkan menjadi koperasi serba usaha dengan mengambil alih beberapa kegiatan kunci dari koperasi tingkat skunder, termasuk pelayanan asurasni koperasi. Pengambilalihan beberapa kegiatan pelayanan kepada anggota koperasi petani ternyata berbuah sangat positif, terutama bagi koperasi primer dalam rangka pelayanan kepada anggota, sehingga NACF pun kemudian melimpahkan tanggung jawab penjualan polis auransi, pinjaman jangka menengah dan panjang, demikian pula pinjaman dan asuransi serta penjualan mesin-mesin pertanian yang sebelumnya ditangani koperasi skunder kepada koperasi primer. Pengalihan beberapa kegiatan pelayanan koperasi ini dapat meningkatkan pendapatan koperasi-koperasi primer, sementara distribusi pupuk, bahan-bahan kimia serta mesin-mesin pertanian kepada anggota menjadi semakin lancar.

Dengan berkembangnya koperasi-koperasi primer, sebagai koperasi serba usaha, maka keberadaan koperasi tingkat skunder menjadi tidak efektif lagi pada tahun 1981 struktur koperasi pertanian Korea Selatan, yang semula terdiri dari tiga tingkat dirampingkan menjadi hanya dua tingkat dengan meniadakan koperasi skunder (city/ county cooperative), yang selanjutnya perannya menjadi kantor cabang NACF. Penghapusan tingkat skunder yang memungkinkan pelayanan langsung oleh NACF sebagai koperasi pertanian tingkat induk/ nasional kepada koperasi primer, yang dikuatkan dengan undang-undang ini, sangat mengurangi biaya operasional serta meningkatkan efisiensi pelayanan koperasi.

Dalam posisinya yang lebih otonom dan independen, Koperasi Pertanian Korea Selatan lebih leluasa dalam menyeimbangkan usaha pelayanannya kepada anggota. Pada tahun 1993 misalnya dalam rangka peningkatan pengumpulan hasil produksi pertanian anggota, NACF telah membangun 181 titik pengumpulan hasil pertanian, 116 gudang berpendingin udara dan 30 pusat penyortiran buah. Pada saat itu juga didirikan kompleks pengolahan beras modern untuk pengeringan, penggilingan, pengepakan dan pengemasan hasil panen padi di beberapa daerah. Jumlah pasar swalayan (supermarket) juga meningkat tajam, dari 38 menjadi 217 buah, warung pemasaran langsung dari 38 menjadi 151 buah, pusat pengapalan hasil pertanian dari dua menjadi enam buah. Dalam upaya mengurangi produk-produk impor dari luar negeri, pada saat itu NACF membangun sembilan pabrik pengolahan makanan.

Dalam rangka pelayanan kepada anggota petani, NACF tidak hanya membatasi diri pada pembangunan sarana dan prasarana di dalam negeri, tetapi juga melalui perdagangan internasional. Sebagai saranan perdagangan ekspor hasil pertanian anggota dan impor barang kebutuhan petani seperti mesin-mesin pertanian, obat-obatan dan sebagainya, NACF pada 1990 mendirikan Korea Agricultural Cooperative Trading Co, dan juga membuk perwakilan di New York (Amerika Serikat) dan Fokuoka (Jepang) sebagai pusat pembelian barang-barang kebutuhan petani (Agricultural Product Shopping Center). Untuk memasarkan hasil pertanian anggota dan sekaligus untuk melayani kebutuhan mereka melalui toko serba ada (department store), pasar swalayan (supermarket), pusat jajan makanan (Food Center), NACF mendirikan Korea Agricultural Cooperative Marketing Co. Sementara untuk melayani pupuk kepada petani, NACF memiliki saham sebanyak 70% pada Namhal Chemical Corporation, pabrik pupuk terbesar di Korea Selatan yang melayani 70% kebutuhan petani Korea Selatan. Semua perusahaan ini berstatus sebagai subsidiari.

Dakam rangka pelayanan keuangan kepada anggota, NACF memiliki unit usaha perbankan dan asuransi. Untuk perbankan jumlahnya di tingkat wilayah/ propinsi ada 17 buah, sedangkan pada tingkat kabupaten (county) terdapat 155 buah kantor bank yang melayani 1332 koperasi primer. Kantor-kantor tingkat kota/ kabupaten yang jumlahnya 155 ini menjadi pusat pelayanan bank tingkat kabupaten melayani enam sampai sepuluh koperasi primer. Secara keseluruhan kinerja perbankan Koperasi Pertanian/ NACF merupakan bank komersial terbesar nomor dua di antara 32 bank di Korea Selatan (2000). Dilihat dari depositonya, bank-bank koperasi merupakan bank terbesar di Korea Selatan (2000). Sedangkan unit asuransinya, yang merupakan perusahaan asuransi terbesar nomor empat di Korea Selatan, NACF menawaran 21 jenis asuransi jiwa dan tujuh asuransi non jiwa.

Usaha prosesing hasil pertanin dilakukan baik oleh NACF maupun koperasi-koperasi primer anggotanya, yang jumlahnya 64 pabrik pengolahan hasil pertanian, yang antara lain menghasilkan: bermacam-macam jus buah, minyak goreng, sayur-mayur, saus, kacang, jamur, kimchi, dsb, yang banyak di antaranya di ekspor, termasuk ke Indonesia.

Sebagai media suara/ aspirasi petani dan media kebijkan bagi pengembangan pertanian, sejak 1964 NACF menerbitkan Koran Petani (Farmer Newspaper), yang terbit dua hari sekali dengan tiras sebanyak 300.000 eksemplar. Sedangkan sebagai sarana pendidikan dan pelatihan bagi staf maupun bagi pengurus koperasi primer anggotanya, NACF sejak 1962 memiliki Agricultural Cooperative College, yang juga terbuka bagi para mahasiswa untuk menuntut ilmu perkoperasian dan pertanian.

Menurut versi Global 300 ICA, dengan volume usaha (turn over) sebesar USD 24.687 juta dan aset sebesar USD 199.783 juta (2005), NACF yang beranggotakan 1.384 koperasi primer (1.278 regional cooperatives/ koperasi padi-padian dan 109 community cooperatives/ koperasi khusus: sayur-mayur, buah-buahan dan sebagainya), dengan anggota perorangan sebanyak 2.411.272 orang dan memiliki karyawan sebanyak 15.622 orang itu, menempati posisi nomor empat koperasi kelas dunia.

Tanggung jawab Sosial

Di samping faktor keuangan, kinerja tanggungjawab sosialnya (cooperative social responsibility) juga menjadi pertimbangan dalam menempatkan NACF pada nomor urut empat Global 300 ICA tersebut.

Dari segi tanggungjawab sosial, NACF memfokuskan kegiatannya pada aspek kemasyarakatan dan lingkungan. Pada aspek kemasyarakatan, NACF telah meluncurkan kampanye bagi kemakmuran bersama kota-kota dan desa-desa pertanian melalui perbaikan kualitas hidup orang-orang kota dan para petani, dan untuk menjadikan desa-desa pertanian sebagai tempat yang nyaman dihuni. NACF juga memainkan peranan kunci pada pemeliharaan budaya lokal dan unik dari setiap wilayah di Korea Selatan. Salah satu kegiatan NACF yang cukup penting dalam budaya lokal ini adalah program “Menemukan Akar”, dimana orang-orang dapat menelusuri peninggalan sejarah bangsa Korea Selatan. NACF juga menyeponsori beberapa kegiatan tradisional pada tingkat wilayah seperti: Pesta Gingseng, Pesta Padi, Pesta Lada Merah, Doa bersama pada panen raya. Pada “Hari Orang Tua” NACF memberikan penghargaan pada putra-putri yang berbakti pada orang tuanya atau kepada pemuda-pemudi yang menghormati orang yang lebih tua. Dalam perlombaan mengarang dan melukis bagi anak-anak secara nasional yang diselenggarakan oleh NACF juga merupakan kesempatan untuk memahami nilai-nilai pertanian oleh anak-anak Korea Selatan.

Mengenai kepedulian terhadap lingkungan, NACF membantu mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan dengan mendukung kelompok-kelompok pertanian koperasi dalam memproduksi hasil pertanian yang ramah lingkungan, dengan mengembangkan teknologi  pertanian dan dengan memberikan pelayanan pendidikan atau pelatihan kepada petani dan konsumen NACF juga mendukung pertanian yang ramah lingkungan dengan memberikan bimbingan manajemen berbasis komputer kepada kelompok-kelompok  pertanian koperasi. Bekerjasama dengan pelaksana pembangunan pedesaan, NACF melaksanakan proyek perintis untuk sistem produksi ternak organik dan saranan pertanian yang ramah lingkungan. NACF juga menawarkan pendidikan manajemen teknologi dan informasi yang berkaitan dengan pertanian untuk membantu para petani dalam menjaga keamanan dan penerapan bahan-bahan kimia dan pupuk.

NACF telah menetapkan tanggal 10 November sebagai “Hari Tanah” dan telah melaksanakan kampanye nasional untuk revitalisasi tanah. Sebagai bagian dari kampanye tersebut, NACF melakukan tes mengenai kondisi tanah di seluruh negeri dan menyelenggarakan berbagai seminar mengenai masalah kondisi tanah tersebut. NACF bersama koperasi-koperasi anggotanya selalu memantau pembuangan limbah industri dan penyaluran air kotor yang melanggar hukum. []

Sumber: Profil Koperasi-koperasi Kelas Dunia, 2009, Penyunting Djabarudin Djohan, Pengantar Roby Tulus, LSP2I, hal 6-13

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam

Switch to our mobile site