Gula Merah

Kisah Micros: Lapak Rames Jadi Sumber Penghidupan

pkl1

Sejak 6 bulan terakhir Microfinance Service (Micros) Kopkun dijalankan, banyak Pedagang Kaki Lima (PKL) sekitar kampus Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) gabung menjadi anggota. Salah satunya adalah Ade Aziz, ayah berusia 28 tahun yang punya lapak di depan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unsoed.

Saat dijumpai di warungnya, Mas Ade sedang sibuk layani pembeli. Bersama istri Mas Ade gantian jualan di warung tenda ukuran 1,5 x 2 meter itu. Gerobak birunya menjadi lapak utama dengan tambahan bensin eceran dan usaha telur gulung. “Ya Alhamdulillah tidak ada tarikan apa-apa, Mas. Dulu pernah ada, sekarang sudah tidak ditariki iuran lagi” terang pria beranak satu itu.

Dari hasil jualan rames, bensin dan cemilan telur gulung, satu hari penghasilan mencapai 100-150 ribu rupiah. “Untung yang paling gede ya dari air minum sama telur gulung. Kalau bensin sekarang sepi, dulu bisa saya tiga kali ke pom bensin isi dirigen 16 liter. Setelah ada pom bensin mini, jadi sepi”, kisahnya sambil menunjukkan botol-botol bensin yang masih utuh.

Anaknya saat ini berusia 6 tahun, yang sebentar lagi masuk SD. Tak salah kemudian Mas Ade buka Simpanan Pendidikan di Kopkun. Oleh Melinda, staf Micros, simpanan itu ditarik tiap hari. “Senengnya di Kopkun itu ada petugas yang narik tiap hari. Saya biasanya nabung 50 ribu untuk tiga simpanan: Harian, Hari Raya dan Pendidikan”. “Dulu pernah ditarik yang lain, tapi pindah ke Kopkun karena petugasnya ramah”, tambah istrinya.

Capaian hari ini baginya sangat menggembirakan daripada 7 tahun lalu yang berkali-kali naik-turun. “Pernah tutup/ bangkrut, Mas. Terus buka lagi, tutup lagi, buka lagi dan sampai sekarang masih bertahan”, kisahnya. “Seperti saat ini mahasiswa sedang libur, jadi sepi. Tapi kalau hari normal, Alhamdulillah lancar. Ya bisa bawa pulang 50 ribu rupiah ke rumah selain simpanan-simpanan tadi”.

Saat ditanya soal pinjaman Mas Ade menuturkan dirinya pernah pinjam ke bank harian atawa rentenir. “Dulu pernah, pinjaman 1 juta mengembalikannya Rp. 1.200.000. Terus sekarang sudah minjam ke Kopkun lebih ringan. Dan enaknya saya cukup nabung tiap hari, angsuran dipotong langsung dari tabungan”.

Sebelum bergabung di Kopkun, Mas Ade pernah nabung di beberapa bank atau tempat lain juga. “Pernah nabung di bank, tapi males karena ngantri. Sekarang enak, diambil tiap hari”, istrinya mengimbuhi. “Mbak Melinda ramah orangnya. Dulu kan pernah nabung di tempat lain, tapi orangnya judes. Wong saya mau ambil tabungan sendiri, eee dibilang, tabungan baru sedikit kok diambil. Lha Kopkun lebih bagus”, tambahnya.

Saat ini Mas Ade juga dipercaya sebagai Pengurus Persikawa, yakni klub sepak bola Kel. Karangwangkal. “Dulu saya ikut main. Sekarang se jadi Pengurusnya saja”, sambil menunjukkan kaos yang dikenakannya pada kami. []

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam