Gula Merah

Strategi Presentasi Orang Koperasi Lewat Gelar HC

hc

Atribusi atau gelar HC diperlukan sebagai strategi politik identitas gerakan koperasi tanah air. Politik identitas ini merujuk pada upaya untuk membangun identitas kolektif guna memperoleh dan/ atau merebut pengakuan diskursif yang lebih luas. Dalam konteks ini, penggunaan gelar atau atribusi HC merupakan bentuk struggle for recognition gerakan koperasi Indonesia untuk bersuara dengan suara dan mulutnya sendiri.

Pengakuan atau rekognisi (recognition) ini bekerja dalam medan diskursif, opini publik dan sejenisnya. Meskipun statistik koperasi Indonesia jumlah anggota individunya mencapai 30 juta orang dan 200 ribu buah badan hokum, namun belum kokoh bila gerakan koperasi belum mampu bersuara dengan mulutnya sendiri. Yang ada hari ini adalah “koperasi” disuarakan berbagai pihak lain (politisi, pengusaha, pemerintah, LSM, yayasan, kampus dan lainnya) sesuai kepentingannya masing-masing. Dalam medan kepentingan seperti itu, gerakan koperasi justru nampak sebagai obyek pelengkap, bukan subyek yang berdaya.

Meminjam gagasan Honneth dalam The Struggle for Recognition: The Moral Grammar of Social Conflict (1995) fenomena di atas merupakan pelanggaran atas keyakinan terhadap partikularitas nilai-nilai dalam kelompok sosial tertentu. Dalam konteks ini, orang koperasi mempunyai sedikit ruang untuk mendefinisikan dirinya sendiri dan di sisi lain digerojog oleh definisi-deskripsi pihak lain. Yang sampai batas tertentu mengandung bias kepentingan.

Pengakuan atau rekognisi itu pada gilirannya merupakan ikhtiar untuk melakukan reclaiming diskursus koperasi oleh orang-orang koperasi. Dengan cara ini, maka kita sedang mendudukkan koperasi sebagai subyek aktif yang mampu mendefinisikan dirinya dalam medan diskursif multi pihak. Hal ini dianggap perlu sejauh bahwa penafsiran koperasi oleh orang-orang non-koperasi memiliki bias tertentu. Misalnya politisi akan membicarakan koperasi dalam kepentingannya untuk membangun basis konstituennya; Pengusaha berbicara tentang koperasi yang dalam pandangannya sebagai bisnis semata.

Sedang pemerintah membahas koperasi dalam kaitannya dalam kebijakan pembangunan dan penyaluran Bantuan Sosial; LSM berbicara koperasi lebih sering dalam potret muram koperasi sebagai rentenir; Yayasan berbicara koperasi dalam hubungannya dengan kegiatan amal sosial; Kampus berbicara koperasi dalam hubungannya dengan Usaha Mikro dan Kecil. Banyak pihak membicarakan koperasi namun dengan bias tertentu karena sangat mungkin mereka hanya mengenali sebagian wajah koperasi saja.

Sebagian wajah yang dimaksud misalnya hanya mengenali koperasi sebagai usaha sebagaimana usaha pada umumnya. Padahal koperasi merupakan perhimpunan orang yang bekerja dalam domain sosial, ekonomi dan budaya melalui perusahaan yang dikelola secara demokratis. Sehingga untuk mengurangi dan meluruskan berbagai bias pemahaman itu, maka orang koperasi harus secara aktif membicarakan dirinya sendiri. Meminjam istilah Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, dalam Hegemoni dan Strategi Sosialis Postmarxisme dan Gerakan Sosial Baru (1999), orang koperasi harus melakukan presentasi (bicara sendiri), bukan representasi (diwakilkan/ dilakukan orang lain).

Di sisi lain, politik identitas ini merupakan usaha aktif untuk menciptakan momen dimana koperasi dapat senantiasa masuk/ merembes  (hegemoni) dalam domain publik yang lebih luas. Secara ilustratif ketika seseorang menyematkan HC di belakang namanya dan lantas ditanya orang lain apa makna HC itu, maka di sanalah tercipta momen sosialisasi/ propaganda tentang modus hidup yang kooperatif itu. Dengan cara seperti ini diskursus koperasi bisa muncul di berbagai momen yang secara aktif disuarakan oleh orang-orang koperasi sendiri.

Paralel dengan itu, momen sosialisasi/ propaganda merupakan ruang bagi orang koperasi untuk melipat gandakan rasa percaya dirinya. Selama ini orang koperasi mengalami inferiority complex karena dianggap sebagai sektor yang tidak menarik; Kumpulan para pensiunan tua; KUD yang gagal di zaman Soeharto; Bergaji rendah dibanding sektor lain; Pucuk pimpinan gerakan yang dipimpin oleh residivis (Nurdin Halid); Tidak akomodatif terhadap anak muda dan berbagai stigma negatif lainnya. Keberanian untuk menyematkan HC di belakang nama sama artinya makin tebalnya rasa percaya diri orang tersebut terhadap gerakan koperasi di Indonesia.

Pembangunan rasa bangga (proud) dan percaya diri (self-respect) bagi pemikir sosial seperti Honneth adalah perlu dan penting karena prasyarat bagi lahirnya relasi yang setara. Dalam konteks tersebut pihak lain (outsider) perlu membangun semangat solidaritas sehingga tercipta social reciprocal recognition. Tentu dengan cara mengakui dan menghormati bahwa kelompok sosial tertentu memiliki kekhasan mode berpikir-bertindaknya tanpa harus memaksanya menggunakan klaim-klaim diskursus arus utama. []

Uraian lengkapnya sila unduh di sini: Apa, Mengapa dan Bagaimana HC? Strategi Rekognisi dan Presentasi Orang Koperasi

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam