Gula Merah

Bom Bunuh Diri

DIGITALLIFESTYLE2

Oleh: Prio Penangsang, HC.

Persis ketika bom pertama meleduk di salah satu lokasi di Jalan Thamrin, sebuah diskusi kecil yang digelar di lantai empat gedung sebuah Induk Koperasi di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, barusan dibuka.

Lamat-lamat, berita pengeboman menyusup menginterupsi diskusi. Seorang manajer Koperasi Kredit yang jadi peserta, segera saja  latah menyalakan telepon genggamnya. Menyodorkan sebidang gambar yang dia akses dari sebuah situs berita, ikhwal sosok-sosok tubuh bergelimpangan di antara kerumunan. Sejenak senyap. Komentar-komentar pendek. Lalu, diskusi diputuskan kembali dihela.

Seorang pakar perkoperasian yang jadi narasumber diskusi, mengurai ikhwal kondisi perkoperasian Indonesia, silam dan kini. Tentang lambatnya progres dan minimnya kontribusi bagi bangun ekonomi. Tentang dominasi Koperasi Simpan Pinjam (KSP), yang paling subur tumbuh sekaligus kultur penerapan prinsip koperasi yang rapuh. Tak ada sesuatu yang baru.

Diurai pula problem klasik koperasi kita yang nyaris menyerupai hantu. Mentalitas (SDM), manajemen, modal, dan pasar. Orang koperasi ngos-ngosan meringkus empat hal itu agar tunduk pada idea-idea, bahwa koperasi adalah perangkat paling mangkus untuk bikin kapitalisme mampus.

Lantas citra koperasi, yang kian berumur kian kurang sadar tampilan. Bukannya menor malahan jontor. Konon, “permasalahnnya ada pada aspek mikro”. Sesederhana itu.

Sembari mengganyang lemper isi ayam suwir, satu hal saya tunggu untuk  didedah dalam diskusi itu. Sayang, hingga acara selesai lepas dhuhur, ia tak kunjung muncul : aplikasi teknologi. Menyoal respon koperasi menghadapi ‘gegar teknologi’.

Ikhwal aplikasi teknologi, koperasi kita bisa jadi sudah ketinggalan quadran. Sudah disalip GoJek, aplikasi (App) layanan transportasi berbasis sepeda motor (ojek) yang sejak dirintis lima tahun silam, kecepatan berbiak bisnis dan aksesnya melebihi kecepatan babon tikus beranak-pinak.

Berbeda dengan koperasi yang didirikan mengacu pada idea-idea penuh perlawanan, GoJek justru berawal dari rasa frustasi : kemacetan  Jakarta.

Dari analisis SWOT penuh kreatifitas khas anak muda, founder GoJek mencoba meracik formula. Dibutuhkan angkutan yang ringkas, cepat dan ongkos yang bersahabat. Layanan yang mudah direplikasi. Gampang diakses di manapun, kapanpun, dan multifungsi : bukan melulu moda angkut orang, tapi juga barang, jasa pembelian dan antaran.

Ke hilir, GoJek juga sukses merevolusi  kultur ojek pangkalan (Opang) yang citranya tak bagus-bagus amat sebagai entitas warga  yang gemar nongkrong di pos jaga, ngobrol, main kartu, dan cenderung pasif di  pangkalannya.

Bermula dari 20 pengemudi ojek  mereka berkembang secara  organik dan independen. Hingga akhir 2015, mereka mampu menarik minat lebih dari 200 ribu ‘anggota’ di sejumlah daerah. Jumlah driver GoJek itu mencapai seribu kali jumlah rata-rata anggota koperasi di Indonesia yang di kisaran 200 orang.

Segera saja citra pengemudi ojek naik kelas. Pendapatan driver GoJek bahkan sempat menyundul kisaran Rp 4 juta – Rp 6 juta per bulan. Angka yang tak diimpikan oleh guru honorer lulusan sarjana di Ibu Kota.

GoJek memikat beragam orang dan latar belakang. Ada anak kuliahan, ibu rumah tangga, kandidat doktor di perguruan tinggi negeri, juga guru dan karyawan kantoran. Waktu kerjanya yang fleksibel, menjadikan ada diantara mereka yang bisa nyambi momong anak dan mengerjakan tesis.

Karyawan operator GoJek berkekuatan 120 engineer dan punya engineer center di Jakarta, Yogya, dan Bengalore (India). Belum pernah ada aplikasi dengan pengguna sebanyak GoJek di Indonesia. Ia sudah diunduh 6 juta pengguna.

Satu-satunya ‘dosa’ dan kelemahan GoJek di mata pegiat koperasi bisa jadi cuma satu : ia bukan perusahaan milik para pengemudi ojek.  Ini pelecehan. Benar-benar bikin cemburu.

Booming bisnis online belum akan surut. Digawangi anak-anak muda kreatif yang enggan terikat pada aturan formalistik, menumbuhkan rupa-rupa bisnis dengan omset puluhan juta hingga miliaran rupiah saban bulan. Dari sukses GoJek menerapkan teknologi aplikasi dan pebisnis online berusia belia mengepakkan sayap usaha, pebisnis koperasi ditantang mentah-mentah. “Ini bisnisku, makan wacanamu!”

‘Bom Thamrin’ memang sukses memberi efek kejut. Para teroris, disebut-sebut terdiri dari kalangan berideologi radikal. Saya sangsi hal itu. Para pegiat koperasi progresif lah yang hemat saya merupakan orang-orang radikal. Ketika dengan teknologi kian canggih, semua bisa dipercepat, entitas gerakan koperasi akan bersambut. Tentu, bukan termasuk percepatan merakit bom bunuh diri. []

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam