Gula Merah

Koperasi Cangkang

cangkang-telur

Oleh: Prio Penangsang, HC.

Ketika dokumen berukuran 2,6 terabita yang diberikan oleh seorang sumber anonim kepada Süddeutsche Zeitung pada Agustus 2015 dan International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), itu akhirnya dirilis, khalayak kembali beroleh informasi ihwal rupa-rupa praktek bisnis tak patut oleh individu maupun korporasi.

John Doe, yang akhirnya menyebut diri sebagai sumber anonim itu, seperti bisa dibaca dalam pernyataannya di  Süddeutsche Zeitung mencoba bersitegas, “I don’t work for any government or intelligence agency and I never have”. Disamping ingin menepis tudingan, ia ingin beroleh kepercayaan. Sebab, tanpa itu, 400 an jurnalis ICIJ tentu menganggap informasi Doe adalah hoax belaka.

Syukurlah, dari 11,5 juta dokumen yang diverifikasi ICIJ, belum ditemui satu pun perusahaan koperasi yang dinyatakan terlibat. Gerakan koperasi dunia boleh senang. Bahwa mereka telah menghelat sebuah organisasi dan bisnis yang bisa dipercaya.

Mengutip Kentaro Kimura, kini dinding pemisah antara dunia bisnis dan problem sosial kian hilang. Semua perusahaan harus memiliki peran sosial untuk mereknya. Jika tidak, perusahaan tersebut tidak akan memenangi kepercayaan konsumen. Jadi,  kepedulian sosial sudah menjadi alasan sebuah merek eksis.

Bagaimana dengan koperasi? Masihkan koperasi dipercaya? Sebuah riset yang dirilis sebuah harian nasional tahun lalu, bisa memberi sedikit ilustrasi. Tercatat 74,3% responden percaya bahwa koperasi mampu meningkatkan kesejahteraan anggota. Ditambah lagi,  77,5% percaya koperasi mampu melancarkan usaha anggota. Kurang apa lagi? Tunggu! Manakala ditanya, apakah mereka tertarik untuk terlibat sebagai anggota koperasi? Hanya 17% saja yang mengiyakan (Litbang Kompas, 2015).

Jika koperasi diibaratkan sebagai agama, saya kira mayoritas orang Indonesia adalah para agnostik. Religius awam, pemeluk koperasi cabe-cabean.

Seribu anak muda meletup-letup macam Suroto pun, tak akan sanggup mengatasi situasi dekaden ini dengan cepat.  Hanya azab dari Tuhan yang mampu menjadikan penduduk negeri ini terenyak, untuk selanjutnya sadar dan kembali ke khittah : memeluk ajaran koperasi yang lurus.

Tanda-tandanya sudah mulai kelihatan, kok. Krisis ekonomi yang menghumbalang AS dan Eropa beberapa tahun silam, misalnya, menggoyang korporasi tapi tidak sampai melukai koperasi. Di negeri ini, perseteruan berdarah dan baku tinju antara pelaku bisnis (kapitalis) transportasi berbasis aplikasi versus bisnis konvensional beberapa bulan silam, misalnya, menjadikan orang sadar pentingnya share economy. Jagad wacana lantas berkecumik, mengemukalah pentingnya ajaran koperasi sebagai jalan yang afdhol dan diridhoi.

Meskipun harus didahului dengan ‘azab’ yang pedih dan menyakitkan, kesadaran untuk menoleh pada ajaran koperasi tetap layak disyukuri. Tugas para kooperator tercerahkan, para homo cooperativus, untuk mengawal dan menyemprit, bahwa koperasi yang hendak dijadikan sebagai solusi itu haruslah koperasi sejati. Bukan koperasi cangkang, koperasi sebagai melulu medium untuk memenuhi syarat formalitas lembaga usaha dengan pamrih beroleh ‘previilese sosial-ekonomi’.

Sebelum konflik jalanan antar pelaku bisnis itu meletup, sejumlah anak muda pintar dan cerdas, diam-diam telah nglakoni ‘tarekat’ koperasi. Mereka ada di sudut Purwokerto, di Pejaten, dan sejumlah tempat lainnya.

Mereka enggan meniru corak koperasi masa silam yang jumud. Mengembangkan ijtihad dengan nalar dan referensi kontemporer yang canggih dan kekinian. Sangat canggih malah. Sampai-sampai saya kesulitan menerka, apakah koperasi dan bisnis mereka kelak juga akan sama canggihnya dengan wacana-wacana yang dibuhulkan. Tidak apa, semoga tetap menjadi pemeluk koperasi yang sholeh, terus berikhtiar menebar manfaat dan mengangkat derajad. Barokallah lah ya. []

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam