Gula Merah

Lagi, Menimbang Homo Cooperativus

hc

Oleh: Prio Penangsang

Melalui artikelnya (klik di sini) yang dikirim kepada saya, Firdaus Putra, pegiat koperasi Purwokerto, mengurai ikhwal pemaknaan Homo Cooperativus (HC) dengan energi meletup-letup. Ia juga percaya diri menuliskan ‘HC’ di belakang namanya layaknya sebagai sebuah gelar.

Istilah homo cooperativus benar bukan hal yang sama sekali baru. Georg Draheim, pemikir Jerman, pada 1950an mengurai HC dari “homo” (manusia) dan “cooperativus” (bekerjasama). Draheim menggambarkan Homo Cooperativus sebagai atribut bagi individu-individu dengan kepentingan pribadi (self-interest) yang sekaligus sadar perlunya mencapai sejumlah kepentingan esensial dalam kehidupan dengan bekerjasama bersama orang lain.

HC dilekatkan pada orang-orang yang menempatkan kultur kerjasama untuk mencapai kepentingan kolektif sebagai prioritas dibandingkan mereka yang memuja kompetisi animalistik untuk glorifikasi diri.

Unsur-unsur HC versi Draheim, segera saja dengan enteng dilekatkan pada koperasi, meskipun sejarah pemikiran dan eksistensi koperasi sejatinya lebih dulu hadir setengah abad sebelum Draheim mewacanakan HC. Esensi dalam HC sejatinya tidak hanya termaktub dalam koperasi melainkan juga dalam narasi-narasi lain, termasuk agama dan etika.

HC juga difungsikan sebagai instrumen politik atribusi. Politik penandaan, yang diharapkan punya energi menggiring kesadaran bersama akan makna sesungguhnya menjadi pejuang dan penyokong ide-ide koperasi. HC diandaikan sebagai ‘sign’ yang kental dengan dimensi moral guna menghadapi ‘tujuh setan desa’ musuh koperasi: feodalisme, individualisme, kapitalisme, dan para pembantunya.

Tentu, langkah kawan-kawan ini sungguh ikhtiar yang demokratis belaka. Sekaligus mengingatkan pada bahasan Walter Lippmann ikhwal “manufacturing consent”. Tentang bagaimana sebuah kesepakatan diproduksi. Ditawarkan kepada ‘publik’, dan diharapkan diamini.

Narasi HC, semoga saja bukan tawaran berjenis plasebo dan ilusif. Meminjam Chris Hedges tentang dikotomi dua dunia : yang realis dan ilusif (Chris Hedges,“Empire of Illusion: the End of Literacy, the Triumph of Spectacle,” 2009) entitas masyarakat yang terperangkap dalam jagad ilusif adalah mereka yang terpapar oleh aneka citraan visual yang secara simultan berprasangka bahwa citra-citra itu merupakan informasi. Referensi valid untuk mengambil keputusan. Bahwa kemunduran ekonomi dan politik entitas gerakan koperasi tidak serta merta bisa diperbaiki dengan mengawalinya melalui politik pencitraan.

Dalam lansekap sosio-politik saat ini, sebuah komunitas tanpa atribut, adakala hanya menunggu dua pilihan nasib : tetap eksis tetapi menyempil di sudut hiruk- pikuk arus politik, ekonomi dan sosial mainstream, atau lesap diakuisisi oleh entitas kuasa dominan.
Entitas masyarakat Badui dengan kultur ekonomi subsisten yang mereka anut, bisa jadi akan tetap lestari untuk sekian dekade ke depan. Pula ritual Seren Taun tetap akan digelar oleh masyarakat Cigugur dan sekitarnya di bawah pimpinan anak cucu Abah Anom sekian puluh tahun nanti.

Ikhwal sampai kapan mereka akan bertahan dengan kearifan lokal macam itu, bisa jadi bukan pertanyaan esensial. Lebih dari itu, survivalitas mereka tidak serta merta bisa diduplikasi untuk menjawab problematika masyarakat peramu di lereng Mamberamo atau suku peladang berpindah di pedalaman Kerinci. Dengan segala local genius nya, mereka tetaplah entitas yang nyempil itu. Oke lah, nyempil dengan harga diri dan punya makna, setidaknya bagi komunitas mereka sendiri.

Tapi saya yakin, bukan itu yang sesungguhnya dimaui para kooperator muda progresif Purwokerto itu. Apalagi di zaman “aku selfie maka aku ada” ini. Tetap butuh ‘tanda tampak’ yang bisa diwacanakan dalam narasi-narasi canggih nan progresif sesuai perkembangan arus informasi (dan kemunduran intelektual) ini. Sebuah tanda yang bisa ‘dijual’ juga di pasar wacana. Di situlah konsep HC dikonstruksi dan dikemas agar relevan, gaul, dan ‘kekinian’.

Ke depan, pegiat dan penyokong ide-ide koperasi, diharapkan mau mengartikulasikan makna HC dalam keseharian. Setelah melalui seperangkat pembacaan atas ide dan konsep, fase berikutnya adalah penyematan atribut ‘HC’ di belakang nama-nama. Kelak, atribut HC tidak hanya nemplok pada sosok macam Prof Sri Edi Swasono, HC., AA Puspayoga, HC., hingga tante Eva Kusuma Sundari, HC.. Melainkan pada nama siapa saja yang secara sukarela dan segaris pemikiran dengan ide HC itu. Ikhwal, yang masih seide, segaris pemikiran dan seperjuangan tapi emoh ditempeli atribut HC, ya aku rapopo .

Koperasi, terutama di banyak negara berkembang, memang masih merupakan sebuah entitas sosial-ekonomi berkategori nyempil itu. Dipepet oleh komunitas bisnis dan politik lokal dan global yang kuat secara kapital.

Biar begitu, koperasi-koperasi kelas dunia masih menjulang di banyak tempat. Di Korea, Jepang, Perancis, Jerman, Skandinavia dan negara-negara kapitalis lain. Meski itu tidak serta merta diartikan bahwa kapitalisme, yang justru hendak dilawan kalangan Homo Cooperator lah, yang selama ini berjasa membesarkan koperasi di negara-negara itu.

Bagaimana koperasi-koperasi kelas berat macam Zen Noh (Jepang), Mondragon (Spanyol), Desjardin (Canada), dan koperasi-koperasi kelas ‘penjelajah’ macam Amul (India), Fonterra (Selandia Baru), bertarung dengan raksasa-raksasa kapitalis sejak awal hingga sebesar sekarang? Apakah mereka melalui fase ‘politik atribusi’ model HC seperti yang diusung kawan-kawan dari Purwokerto itu?
Atau atribut kerja keras, kerja jujur dan kerja cerdas, yang berujung sukses segelintir contoh koperasi besar di atas telah melekat sejak awal mereka berdiri? Dan mereka tetap istiqomah plus inovatif. Karena itu, tak satu pun anggota koperasi mereka untuk berfikir dan berwacana mencari atribut baru selain kerja koperasi itu sendiri?

Di Indonesia, koperasi telanjur hidup dengan segambreng atribut elok. Sebut saja ikhwal koperasi sebagai soko guru ekonomi. Itu tercantum dalam konstitusi yang telah berusia 70 tahun. Narasi argumentatif kesokoguruan koperasi dari sejumlah pemikir sekaliber Bung Hatta hingga mantu Bung Hatta (Prof Sri Edi Swasono) nyaris tak terbantahkan hingga kini.

Lalu, kenapa di sini koperasi tetap saja menang jumlah tapi kalah marwah? Dengan unitnya yang terserak dari Aceh hingga Papua yang mencapai 170 ribu lebih, kontribusinya pada PDB tak beranjak dari dua persen saja. Mana soko gurunya? Pemerhati koperasi senior Djabaruddin Djohan, saking senewennya, malahan mengatakan bahwa ikhwal kesokoguruan koperasi tak lebih dari mitos belaka. Mudah-mudahan ekonom dan kapitalis keblinger tak lantas mem-bully koperasi sebagai komunitas bisnis ‘dua persen’.

Saya percaya, anak-anak muda progresif itu niscaya nglotok jika hanya sekedar mengeja persoalan dan sebab musabab mengapa koperasi kita tak kunjung tumbuh besar. Mereka juga fasih jika diminta menyodorkan solusi rupa-rupa problem koperasi mengacu pada pengalaman mereka mengelola koperasi plus catatan melawat ke koperasi-koperasi maju dan aneka konferensi di luar negeri.

Jujur saja, sejak awal saya lebih naksir dengan Kopkun ketimbang narasi koperasi mahzab manapun. Kopkun pula yang saya tahu merupakan lokus candradimuka anak-anak muda progresif dari kota para pengganyang mendoan itu. Seandainya Kopkun adalah seorang gadis, tentu ia muda dan progresif. Tipe gue banget. Bahkan saya tak malu-malu untuk menelikung semua dalil syar’i ikhwal ketidakmampuan individu untuk berlaku adil dalam poligami demi menikah lagi dengan cewek ini. Peduli setan jika Suroto, HC tetap sendirian.

Sayang, seperti dikemukakan sendiri oleh salah satu pegiat Kopkun Firdaus Putra manakala bertemu saya di Kementerian Koperasi, akhir November silam, hasrat saya untuk melamar dan diterima sebagai ‘pacar’ Kopkun bisa jadi masih butuh waktu lama. Dengan kata lain, kultur Kopkun sendiri belum berdaya untuk diduplikasi di luar habitatnya. Praksisnya, kulturnya, bukan hanya ikhwal pentolan-pentolannya yang kinyis-kinyis berikut wacana-wacana ajaibnya.

Jika Kopkun membesar dengan bangun kulturalnya sendiri, saya yakin para anggotanya tak akan sungkan menuliskan nama depannya dengan atribut ‘Kopkun’, bisa disingkat ‘Kopk’. Tapi berhubung ‘Kopk’ bisa diplesetkan jadi ‘kopik’, lalu ‘koppig’, mungkin tetap enak didengar dan sedikit jenaka jika tetap dengan ‘Kopkun’.

Jika demikian, maka dengan bangga akan muncul nama-nama berikut ini : Firdaus Putra Kopkun, Anis Saadah Kopkun, Sarwono Adhiyanto Kopkun, Suroto Kopkun, Sri Edi Swasono Kopkun, Joko Widodo Kopkun, Ahok Kopkun, Prio Penangsang Kopkun, begitu seterusnya. Kurang keren apa lagi, coba?

Ah, semoga saja, narasi Homo Cooperativus yang tengah diperjuangkan ini tidak terjerembab pada ikhtiar pemassalan atribut artifisial atau sekadar kegenitan intelektual. Aamiin. []

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam