Gula Merah

Sensor!

censorship

Oleh: Prio Penangsang, HC.

Hampir tengah malam ketika pada September yang lembab, saya menyelinap meninggalkan kolega yang tengah bersantap  di sebuah resto kecil di kawasan River Valley Rd. Berjalan kaki beberapa blok diterangi temaram kuning lampu jalan yang mulai sepi lalu berbelok ke muka sebuah toko.  Tertulis di atas pintu masuk : FairPrice.

Itu salah satu toko milik NTUC Fair Price, koperasi konsumen paling tajir di Singapura. Dengan anggota mendekati setengah juta orang,  mereka hanya menyisakan tak sampai tigapuluh persen pangsa ritel untuk kelompok bisnis lain .

Bukan soal berapa miliar dolar turn over dan asset yang berhasil mereka dapat, yang menarik adalah, iklim model apa tempat FairPrice tumbuh. Negara Demokrasi? Sedemokratis apakah jiran semenanjung ini? Seberapa perlu ‘negara demokrasi’ menjadi prasarat koperasi punya kuasa senyampang Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia?

Padahal, di sini demokrasi adalah industri itu sendiri. Industri kehumasan, lapak ‘lipstik’, media dan propaganda. Tempat dimana aksi manipulasi atas opini dan perilaku publik merupakan elemen penting dalam demokrasi, kian subur.

Di sini, dengan sedikit ketekunan menyimak, juga kelatahan naif, semua ayat-ayat dalam kitab suci bisa dimanipulasi. Termasuk untuk tujuan memberi ‘bobot ideologis’ pada figur politisi, pengusaha, dan orang-orang yang ingin meraih posisi penguasa. Diandaikan, calon-calon yang sudah dilumuri bumbu-bumbu petilan dari kitab suci, lebih halal dan afdhol untuk dipilih. Dan kepemimpinannya dijamin memberi hasil gurih.

Di koperasi, dengan dua atau tiga calon ketua untuk dipilih, saatr satu diantaranya menggondol limapuluh persen plus satu suara, ia pasti jadi ketua. Itu demokrasi. Kesepakatan mayoritas anggota dalam mengambil keputusan terpenuhi. Tapi ia tak lantas jadi demokratis.

Apakah masing-masing suara itu dikeluarkan pemiliknya berdasar kesadaran penuh? Sesadar seperti ketika laki memilih calon bini? Sesadar seperti ketika hendak menetapkan pilihan jadi pebisnis atau buruh? Dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi? Intelectual tool nya apakah sudah menjadikan proses terpilihnya si ketua itu sadar bahwa seorang mantan tahanan korupsi tak pantas jadi pemimpin gerakan koperasi? Intelektual tool macam mana pula yang menempatkan seorang mantan terdakwa kasus korupsi sebagai pucuk pimpinan gerakan koperasi?

Butuh suatu kultur totalitarian dalam masyarakat untuk membiarkan fakta-fakta objektif tentang kejahatan-kejahatan korporasi yang selingkuh dengan penguasa tetap langgeng. Situasi ini, benar-benar pencapaian sukses media dan propaganda.  Berbondong orang, akademisi, kalangan terdidik, lalu awam, memblok diri sendiri dari isu-isu koperasi, enggan mempelajari bahkan antipati dan mencapnya tidak seksi.

Apa boleh buat, kita hidup di era totalitarian culture, tempat isu-isu koperasi disepak keluar lewat pintu belakang. Era Pak Harto, sensor atas pikiran anak-anak muda progresif ada banyak cara.  Mulai dari stigma buruk, teror, dan paling keji : bedil! Kini, sensornya lain-lain lagi : media-media, milik konglomerasi maupun petualang dunia maya, yang sampahnya sering kita kunyah dan tak jarang memabukkan. “..The mass media are basically big corporations, and they share the interests of other major corporations, which means the interests represented by the state. So it’s not too surprising that they’d tend to support state power; what is interesting is the uniformity, the virtual lack of deviance.” , ujar Chomsky.

Sebuah sukses propaganda luar biasa sampai-sampai para ekonom dan media mainstream menyensor diri sendiri dari sekedar mewacanakan koperasi. Lalu seorang akademisi yang rajin jadi pembicara seminar, malahan bilang begini, “Koperasi sudah nggak seksi dibicarakan lagi. Nggak ada (media) yang mau muat,” katanya kalem. Seksi? Saya bayangkan, Pak Doktor ini berkata begitu sambil pikirannya membayangkan Princess Syahrini rebahan dan mengangkang manja di padang rumput lavender di Itali ().

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam