Gula Merah

Yuk, ke Kalijodo

ilustrasi psk

Oleh: Prio Penangsang, HC.

“Ya, Allah aku ingin jadi orang baik..”

Selarik goresan tangan di kertas putih kumal itu terserak di sebuah rumah bordil. Juga beberapa lembar ‘aktiva – passiva’ sederhana memuat jumlah tamu yang dilayani setiap hari dan sejumlah bon tanpa rincian untuk keperluan apa.  Konon, kertas-kertas ini milik seorang pekerja seks komersial (PSK) yang telah hengkang dari tempatnya mangkal, di Kalijodo.

Akhir pekan silam ketika saya berdiri di tepi kali berair keruh yang membelah kawasan itu, suasana kian muram. Sejumlah aparat berseragam cokelat dengan bedil laras panjang berjaga di beberapa sudut. Beberapa warga mengemasi meja, kursi, kasur lipat, dalam diam.

Beberapa pekan terakhir, pemberitaan media massa sukses mengajak orang untuk sejenak melongok Kalijodo. Lokus bisnis prostitusi yang lebih separuh abad menampung syahwat laki-laki gatel Ibu Kota dan sekitarnya.

Polemik Kalijodo menguar pula di jagad medsos. Memunculkan banyak pengamat sosial dan ulama tiban yang seolah khatam atas solusi segala persoalan.

Mengenangkan Kalijodo yang sebentar lagi rata tanah, saya teringat kisah Maria Jose Lopez, dari Ibiza, Spanyol. Maria bukan anggota DPR atau artis. Ia cuma ibu rumah tangga dan aktivis sosial. Ia tak segarang sosok Ahok atau seluwes tante Eva K. Sundari. Maria ‘cuma’ sukses memberdayakan para PSK di pulau wisata Ibiza tanpa diawali dengan hiruk pikuk. Tak ada drama pengerahan eskavator atau aparat berbedil teracung. Melainkan dengan membentuk sebuah koperasi.

Bermula dengan sebelas PSK berusia 20-30 tahun dari Spanyol, Italia, dan sejumlah tempat lain, angkanya terus menanjak. Menabalkan diri sebagai koperasi pertama di Spanyol yang bisa memberikan perlindungan hukum kepada para PSK.

Di Ibiza, koperasilah yang membebaskan para PSK dari terungku germo-germo kapitalis. Seperti halnya serikat pekerja, anggota koperasi beroleh pendidikan anggota. Sehingga mampu menerapkan prinsip akuntabilitas dan transparansi. Mereka mengumumkan pendapatan serta membayar pajak. Untuk itu, mereka berhak atas tunjangan kesehatan, pensiun, dan berbagai keuntungan lain.

Kultur di sini memang berbeda dengan Spanyol, yang hingga satu dekade lalu saja warganya bisa menghabiskan hampir 70 juta dolar per hari untuk sektor prostitusi yang menghidupi nyaris setengah juta orang. Tapi semua saja tahu, kisah koperasi PSK di Ibiza tidak serta bisa diadopsi. Setidaknya di sini.

Sebelum membaca heroisme Maria, Saya pernah mengenal Wiyadi, aktivis sosial dari Yogyakarta. Kami berdua diundang untuk berbagi kisah bersama sejumlah pegiat koperasi dari sejumlah kota di Bandung Selatan, lebih satu dekade silam.

Wiyadi dan kawan-kawan mengelola Rumah Usaha Ahmad Dahlan. Selain mengayomi anak jalanan dengan kegiatan ekonomi kreatif, ia juga menginisiasi Koperasi PSK. Ini hal baru bagi Saya. Dan sebelum kegumuman saya habis, Wiyadi sudah menohok. “Mbok kamu kuliahi soal moral sampai mumpluk (berbuih), tanpa ada pemberdayaan sosial dan ekonomi, lonte-lonte kita tetap akan bergeming di dunia prostitusi!,” bisiknya.

Ia melihat sendiri, bahwa kebanyakan PSK bergabung ke dunia prostitusi bermotif ekonomi. Karenanya, pemberdayaan ekonomi dianggap sebagai salah satu solusi tradisional  mengatasi persoalan ini. Hipotesis Wiyadi dan kawan-kawan sederhana, jika kesulitan ekonomi dan sosial para PSK teratasi, mereka akan lebih terbantu untuk berhenti mangkal mengerling laki-laki gatel Kota Budaya di Sarkem dan sekitarnya. Lalu ia memilih jalan koperasi.

Di negara ini, prostitusi tidak masuk kategori profesi legal macam tukang las atau guru honorer. Tak satu pun anak sekolah dididik dan bercita-cita jadi PSK. Beda dengan di negara-negara habitat koperasi jempolan macam Denmark, Jerman, Belanda, atau Belgia. Di sana PSK diakui sebagai salah satu profesi dan mendapatkan perlindungan dari negara.

Selarik aksara bernada doa milik seorang PSK seperti saya kutip di atas, mungkin kian sulit terwujud. Bukan karena Tuhan tak hadir di sana, melainkan tersebab tak satu pun aktivis koperasi yang sudi mampir ke Kalijodo. []

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam