Gula Merah

Digdayanya Klub Sepak Bola Koperasi Eropa

FC-Barcelona-v-Valencia-CF-La-Liga

Oleh: Aef Nandi, HC.

Pada tahun 2015 sebanyak 110.000 pemilik saham Barcelona hadir di Stadion Camp Nou untuk memilih presiden baru. Dalam momen itu, Jose Maria Bertomeu mendapat 54.63 persen mengungguli Joan Laporta (30.03 %) Agusti Benedito (7.16) dan Toni Freixa (3.70). Bertomeu akan memimpin klub katalan itu untuk enam tahun mendatang.

Momen semacam itu kalau di Indonesia mungkin namanya Rapat Anggota Tahunan (RAT). Yaitu forum tertinggi di perusahaan koperasi dimana anggota hadir untuk memilih pengurus baru. Hal itu juga yang terjadi di Barcelona, dimana para pemilik yang adalah para supporter memilih presiden baru untuk mengelola klub.

Barcelona adalah klub yang berdiri pada 29 November 1899 yang dikelola secara demokratis berdasarkan prinsip koperasi. Klub ini  sebenarnya bukan sekadar klub sepakbola, tetapi serikat olahraga masyarakat katalan yang bersifat privat atau swasta. Klub itu terdiri dari banyak cabang olahraga profesional maupun amatir mulai dari Basket, Hockey hingga sepakbola.

Barcelona menjadi klub koperasi modern yang  mampu bersaing bahkan mengungguli klub Eropa lain yang mayoritas dikelola dengan perseroan. Karena sifat kepemilikannya yang unik itulah Barcelona punya moto more than a club atau lebih dari sekadar klub. Ini karena sebagai perusahan koperasi, Barcelona tidak hanya bicara soal olahraga saja. Tapi juga kepedulian dan solidaritas. Salah satunya bentuknya adalah kerjasama dengan UNICEF.

Bila melihat logo UNICEF  jersey klub bukan berarti lembaga PBB untuk anak-anak itu yang membayar sejumlah uang ke klub, tapi justru Barcelona lah yang memberikan donasi. Hadirnya logo di kostum hanyalah sebagai bukti Barcelona terlibat di lembaga internasional itu. Logo UNICEF bahkan sempat menjadi sponsor utama di beberapa musim sebelum manajemen menerima sponsor baru, Qatar Airways, karena pertimbangan keuangan.

Klub koperasi di Spanyol sebenarnya tidak hanya Barcelona. Real Madrid, Atletic Bilbao dan CA Osasuna adalah klub mapan yang dikelola lewat koperasi juga. Tapi Barcelona dianggap sebagai anak angkat koperasi modern dimana mereka berhasil mengelola sebuah klub dengan sejarah panjang dengan prinsip-prinsip koperasi.

Kesuksesan Barcelona ternyata memberi dampak besar di Eropa yang dikenal dengan nama Barcelona Effect. Di Inggris mulai ada tuntutan pengelolaan klub yang lebih manusiawi dari para supporter, yaitu hak kepemilikan atas klub. Upaya itu ditunjukkan dengan terbitnya buku saku yang digagas oleh David Boyle. Uniknya, di buku itu disertakan survai bahwa sebanyak 70 persen supporter menyatakan klub lebih baik dimiliki oleh supporter-nya.

Dalam sepakbola supporter adalah kunci dari gemerlapnya dndustri sepakbola modern. Kontribusi mereka, salah satunya, dari pembelian tiket adalah salah satu pintu keuangan klub. Tapi di klub perseroan, supporter hanya menjadi semacam pemasok keuangan bagi klub dengan timbal balik yang minim.

Dari 10 liga top di daratan Eropa, Liga Premier Inggris adalah  liga dengan rataan harga tiket yang mahal. Sebagai contoh, harga tiket terusan untuk satu musim Arsenal mencapai 2000 Poundsterling. Bandingkan dengan Barcelona, atau klub koperasi lain semisal Bayern Munchen yang lebih murah, di angka 73,88 dan 100 Pounsterling.

Upaya mengelola  sepakbola secara demokratis, selain di Spanyol juga terjadi di Jerman. Semua klub divisi atas liga Jerman, Bundesliga, kecual Bayern Liverkusen dan Wolfburg adalah klub yang dikelola secara kooperatif. Klub raksasa semisal Bayern Munchen dan Borrossia Dortmund saham mayoritasnya dimiliki oleh supporter. Klub Jerman memang menolak investor asing.

Aturan kepemilikan saham klub di Jerman adalah 51 + 1, artinya boleh ada investasi individu tapi kepemilikan supporter harus lebih tinggi. Sejak sistem kepemilikan bersama ini diberlakukan pada 1963 belum pernah ada kabar klub Jerman bangkrut karena masalah keuangan. Sementara itu, banyak klub Eropa lain yang dimiliki oleh perorangan mengalami kebangkrutan.

Karena dimiliki bersama, klub Jerman lebih ramah terhadap supporter mereka. Itu bisa dilihat dari banyaknya supporter yang hadir di stadion. Tingkat kehadiran penonton di Jerman adalah yang paling tinggi di dunia, mencapai 42.465 orang, dengan tingkat keterisian kursi mencapai 91.2 %. Itu adalah angka yang tinggi dan hanya kalah setingkat di bawah Inggris.

Kekuatan klub dengan kepemilikan bersama tentu berada pada basis supporter yang loyal. Barcelona, Real Madrid dan Bayern Munchen memperoleh pemasukan dari anggotanya dalam jumlah besar. Real Madrid, misalnya, selalu mendapat pemasukan rutin dari 80.000 socios atau anggotanya dalam rupa pembelian tiket terusan dalam semusim.

Kuatnya finansial berimbas pada performa tim dalam berbagai kompetisi. Real Madrid telah mengoleksi 10 juara Liga Champion dan selalu kandidat juara di kompetisi domestik sebagai pesaing Barcelona. Bayern Munchen adalah langganan juara Liga Jerman dan kompetitor utama di Liga Champion Eropa. Dominasi mereka dirasa wajar karena mampu membeli pemain bintang sekalibel Christiano Ronaldo, Lionel Messi dan Robert Lewandowski.

Fenomena klub koperasi adalah contoh konkret jika dikelola dengan benar, koperasi akan menjadi sebuah kekuatan besar dan bisa diaplikasikan pada bidang apapun, termasuk urusan sepakbola. Barcelona, Real Madrid dan Bayern Munchen adalah bagaimana sebuah klub dikelola secara demokratis berdasarkan prinsip koperasi. Kapan Indonesia menyusul? []


Sumber :

  • http://www.espnfc.com/barcelona/story/2527502/incumbent-josep-maria-bartomeu-wins-barcelona-election
  • http://www.koranpagi.com/belajar-dari-sepakbola-jerman/
  • https://m.tempo.co/read/news/2014/01/14/235544667/real-madrid-raih-omzet-520-juta-euro

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam