Gula Merah

Koperasi Sebagai Social Enterprise

social enterprise

Oleh: Aef Nandi, HC.

Koperasi adalah entitas bisnis yang dimiliki bersama. Dalam koperasi tak ada kepemilikan tunggal. Modal koperasi di peroleh secara swadaya, atau boleh juga dari pihak ketiga. Perusahaan koperasi menekankan pada aspek benefit bukan profit.

Karenanya, Koperasi termasuk social enterprise atau perusahaan sosial. Dimana bisnis di gunakan sebagai alat untuk menciptakan keadaan sosial yang lebih baik. Jadi perusahaan koperasi bekerja sesuai hukum ekonomi dan pola bisnis secara umum, tapi tetap berpijak pada prinsip koperasi.

Yang perlu diperhatikan, social enterprises beda dengan non – profit organization. Social enterprise adalah bisnis layaknya bisnis secara umum. Ada upaya pemupukan profit disana, tapi profit yang di dapat kembali di investasikan untuk kepentingan bersama.

Non – profit organization tidak menggunakan pendekatan bisnis untuk menyelesaikan masalah sosial. Biasanya pola kerjanya bersifat charity dengan biaya dari donor, atau didapat secara swadaya. Jadi di non – profit organization tidak ada pemupukan profit. Dia murni benefit.

Sebagai perusahaan sosial, maka koperasi fokus pada masalah yang mendera anggota atau komunitas. Bisnis hanyalah alat untuk mengatasi masalah sosial, yang di garap secara kolektif antar anggota. Dimana setiap anggota urun modal atau tenaga untuk meraih kesejahteraan bersama.

Ideologi Kemakmuran

Soal kesejahteraan, ideologi berpijak pada keyakinan bahwa kesejateraan suatu negara berasal dari upaya kelompok bukan individu. Hal ini berbeda dengan pandangan kaum liberal yang memandang kesejahteraan di mulai dari Individu. Jadi bila masyarakat ingin sejahtera, perlu ada segelintir individu kaya yang kemudian menularkan kekayaannya pada individu lain.

Teori kemakmuran ini namanya Trickle Down Effect. Yaitu, kemakmuran akan di capai dengan pola orang – orang kaya meneteskan kekayaannya pada orang miskin. Orang miskin bekerja pada orang kaya, mereka kemudian mendapat upah dari tenaganya.

Pola ini kerap menimbulkan eksploitasi, ketidak adilan dan kesenjangan sosial yang akut. Pola ini melahirkan sistem ‘ yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Koperasi menolak sistem ini, sehingga koperasi punya pandangan yang kontradiktif soal kemakmuran.

Akar Rumput

Karena punya misi sosial, idealnya koperasi tumbuh dari bawah. Dari akar rumput. Sekelompok masyrakat yang yang menderita akibat sembako mahal, bisa mendirikan koperasi konsumsi, yang perlu bantuan kekuangan mendirikan koperasi kredit, yang perlu pekerjaan mendirikan koperasi pekerja.

Perbedaan kebutuhan dan kepentingan ini kelak akan menentukan jenis koperasi. Koperasi konsumsi untuk mereka yang butuh sembako, koperasi kredit untuk yang perlu kredit, koperasi pekerja untuk mereka yang butuh pekerjaan. Begitulah seterusnya.

Jadi idealnya, koperasi adalah adalah kumpulan orang dengan kepentingan dan kebutuhan yang sama. Masyarakat yang butuh sembako murah tak bisa di atasi oleh koperasi pekerja, begitupula sebaliknya. Tapi orang Indonesia cerdas, kita mengenal Koperasi Serba Usaha ( KSU ). Yaitu koperasi yang berupaya mengakomodir semua kebutuhan anggotanya.

Koperasi yang berdiri dari bawah biasanya bertahan lama. Hal ini karena karena ada common sorrow, atau penderitaan yang sama. Sehingga rasa memiliki dan loyalitas tumbuh secara alamiah.

Pendirian dan Pengelolaan

Koperasi bisa didirikan oleh siapapun, asal berupa kumpulan. Di Indonesia, regulasi pendirian koperasi minimal 20 orang. Tapi sejatinya, koperasi boleh didirikan oleh 3 orang. Misalnya pada model Koperasi Pekerja atawa Worker Coop. Ini, koperasi lebih baik dipahami sebagai sebuah nilai dan semangat kolektivitas ketimbang lembaga legal – formal.

Begitu pula koperasi konsumsi, memberi manfaat pada anggotanya dengan menyediakan kebutuhan pokok yang murah, ketimbang tempat lain. Koperasi kredit memberi pinjaman lunak untuk anggotanya. Begitu pula jenis koperasi lain, memberi mamfaat pada anggotanya.

Dari segi pengelolan, koperasi di kendalikan bersama oleh semua anggota melalui sebuah forum. Biasanya di di sebut Rapat Anggota Tahunan ( RAT ). Ini adalah forum demokratis, dimana anggota ikut mengendalikan kebijakan umum perusahaan. Demokrasi inilah yang menjadi ciri khas, dimana di perusahaan non – koperasi kebijakan di buat oleh segelintir orang.

Untuk operasional, anggota menjuk salah seorang dari mereka untuk menjalankan bisnis. Atau boleh juga profesional di luar anggota bila khalayak menyetujui. Wakil anggota ini di sebut pengurus. Kemudian forum juga menunjuk pengawas, untuk memonitor kinerja pengurus.

Karena bersifat bisnis, koperasi bekerja secara profesional agar bisa tetap survive dan bisa hidup dan menghidupi. Koperasi yang baik di kelola oleh profesional yang di bayar secara wajar, bukan sukarela. Koperasi yang baik perlu berjalan sesuai misinya, menyelsaikan masalah anggotanya. []

*Penulis adalah Pengurus Koperasi Pekerja IC Coop dan Volunteer di Kopkun Institute

Referensi:

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam