Gula Merah

Rumah Nyaman ala Koperasi Perumahan Denmark

housing

Oleh: Aef Nandi, HC. 

Di negara dimana penduduknya masih gemar beranak-pinak ini, masalah perumahan adalah masalah serius terutama di kota besar. Rasio jumlah manusia dan jumlah hunian yang tidak seimbang, sistem kepemilikan yang kapitalistik plus kemampuan ekonomi minimalis adalah kendala masalah perumahan di Indonesia.

Sistem perumahan di negara ini belum sepenuhnya ramah untuk kalangan ekonomi bawah. Rumah layak hanya bisa akses oleh mereka yang berkocek tebal karena harga yang saban tahun naik. Sementara orang miskin harus rela tidur di bedeng sungai, kolong jembatan dan lainnya.

Setiap negara punya kewajiban menyediakan perumahan dengan sistem yang adil bagi rakyatnya. Ada negara yang berhasil ada pula yang gagal. Denmark, misalnya, dibanding negara Eropa lainnya terbilang berhasil mengatasi masalah perumahan. Orang Denmark punya rumah lebih luas dan sanitasi yang lebih baik dibanding jirannya, Inggris dan Swedia. Selain itu sistem perumahannya termasuk ramah untuk kalangan tak berpunya.

Saya akan kisahkan dulu soal Denmark barang separagraf. Siapa tahu nanti Anda tertarik plesir ke sana; Karena berdasar riset PBB negara ini adalah tempat paling nyaman, aman dan bahagia di dunia. Di sana, kualitas pendidikan sangat tinggi; Orangnya jujur dan  insfratrukturnya lengkap.

Di Denmark pegiat koperasi dan para filantropis memiliki peran penting dalam menyediakan perumahan untuk kalangan ekonomi lemah. Mereka menggagas perumahan sosial yang menjadi agenda nasional pasca Perang Dunia II.

Perumahan sosial sendiri merupakan respon terhadap pesatnya pertumbuhan ekonomi serta arus urbanisasi di era 1945 – 1980-an, sehingga kota jadi padat, sesak. Namun kondisi itu tidak diimbangi jumlah hunian yang memadai dan layak. Hasilnya, banyak kelas pekerja yang tidak punya rumah.

Gagasan perumahan bagi golongan ekonomi lemah mulai dirintis tahun 1940, 1980 dan 1990-an yang dimotori berbagai organisasi nir-laba. Tujuannya yaitu menyediakan rumah dengan harga bersahabat. Dengan sistem ini setiap orang punya kesempatan yang sama untuk memperoleh tempat tinggal karena biaya sewanya murah, hasil dari subsidi pemerintah.

Paling tidak ada sekitar 771 asosiasi perumahan yang tersebar di seluruh Denmark. Asosiasi itu memiliki properti yang disewakan pada masyarakat. Hingga saat ini, tidak kurang dari 1 juta orang tinggal di perumahan sosial dengan dampak yang signifikan.

Asosiasi perumahan pada dasarnya adalah organisasi independen, yang di kelola secara demokratis. Namun, karena menerima subsidi maka pemerintah turut serta mengawasi dan intervensi. Untuk urusan tata kelola sehari-hari, setiap komplek perumahan mengirim perwakilannya untuk menjadi pengurus.

Selain perumahan sosial, ada pula perumahan koperasi yang dikenal dengan KAB. Asosiasi ini adalah himpunan dari 58 asosiasi perumahan di wilayah sekitar ibu kota negara, Kopenhagen, dan kota besar lainnya. KAB fokus pada pengelolaan dan penyediaan perumahan untuk anggotanya. Saat ini KAB memiliki 301 komplek perumahan dengan jumlah penghuni sebanyak 540.000 orang.

Perumahan koperasi dikelola secara demokratis. Setiap komplek perumahan mengirim wakilnya di dewan pusat yang mengadakan General Assembly atau Rapat Anggota dalam istilah kita. Di pertemuan ini anggota turut menentukan kebijakan umum KAB, semisal anggaran biaya, tata kelola lingkungan, harga sewa dan lain sebagainya.

Untuk bisa tinggal di perumahan koperasi syaratnya harus beli saham, atau dalam istilah kita membayar Simpanan Pokok. Harga saham untuk setiap model rumah bervariasi. Rumah model lama, yang dibangun tahun 1980-an, harga sahamnya 100.000 – 300.000 Danis Krone (mata uang Denmark). Saham ini bisa dijual kembali pada orang lain jika sipemilik rumah ingin pindah dengan harga jual yang sudah diatur oleh AKB.

Penghuni juga membayar ongkos sewa setiap bulan, atau dalam istilah kita sama dengan Simpanan Wajib. Biaya sewa rumah beragam, rata – rata mulai 40.000 DKK per bulan. Uang sewa ini digunakan untuk pengembangan perumahan baru dan biaya operasional semisal biaya kebersihan, keamanan, pembuatan taman, biaya perbaikan fasilitas dan lain sebagainya.

Sebanyak 63 persen penyewa perumahan koperasi adalah pekerja produktif; Dan 37  persen sisanya adalah lansia dan pensiunan. Umumnya mereka mendapat rumah seluas 81 meter persegi, lebih luas dibanding dengan perumahan sosial meski sedikit lebih sempit dibanding perumahan pribadi. Karena berada di daerah perkotaan dengan lahan yang sempit, model perumahan umumnya berbentuk apartemen atau flat.

Koperasi perumahan di Denmark menjadi model perumahan alternatif yang bisa diakses oleh semua kalangan. Dengan sistem ini kesempatan untuk memiliki hunian yang layak terbuka luas karena harga properti naik atau turun secara wajar. Tentu saja, hal itu berkah bagi kalangan pekerja kerah biru karena bisa tinggal di rumah yang nyaman.

Sistem koperasi juga mencegah kenaikan harga rumah/ properti yang meroket seperti di negara kita. Hal ini karena harga jual saham sudah diatur oleh asosiasi. Selain itu sistem ini juga mencegah orang kaya membeli banyak rumah sekaligus sehingga kepemilikan tempat tinggal tetap terkendali.

Di Indonesia koperasi perumahan masih langka. Pada tahun 2011 jumlah koperasi perumahan hanya hanya ada 18 buah saja sehingga sangat jauh dari kata ideal atau mencukupi. Padahal adanya perumahan koperasi dirasa relevan sebagai salah satu sistem perumahan di Indonesia. Dengan sistem koperasi, orang miskin juga bisa punya rumah layak dan nyaman. []

Sumber :

  • http://ica.coop/en/media/co-operative-stories/kab-how-cooperative-housing-works-denmark
  • rudar.ruc.dk/bitstream/1800/1208/1/Social_housing_in.pdf
  • http://eprints.lse.ac.uk/29945/1/The_solution_or_part_of_the_problem_(author).pdf
  • http://www.housingdenmark.net/cooperative-housing-in-denmark/

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam