Gula Merah

Purwokerto Mencetak Rekor

pwkrto

Hasil Survai Biaya Hidup (SBH) per 2 Januari 2014 menempatkan Purwokerto sebagai kota dengan perubahan biaya hidup tertinggi di Indonesia. SBH dilaksanakan per lima tahun yang tujuannya untuk menetapkan Indeks Harga Konsumen dan patokan inflasi.

Kenaikan biaya hidup Purwokerto mencapai 96,35% dari tahun 2007 sampai 2012. Yang mana angkanya bergerak dari Rp. 2.082.585 menjadi Rp. 4.089.099. Sebagai pembanding, perubahan biaya hidup Kota Bandung   pada kisaran 78,16%. Lantas bagaimana dengan Jakarta? Ternyata angkanya hanya pada kisaran 48,49% dan termasuk 10 kota dengan perubahan biaya hidup terendah di Indonesia.

Kenaikan biaya hidup yang hampir dua kali lipat selama lima tahun itu bisa jadi selaras dengan tingkat perkembangan kota. Sebagai gambaran, Purwokerto bersama Sumbang, Baturraden, Kedungbanteng, Kemba­ran, Karanglewas, Sokaraja, dan Patikraja ditetapkan sebagai kawasan perkotaan melalui Perda No. 10 tahun 2011.

Di sisi lain, Purwokerto masuk dalam Kawasan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Menurut Perpres 28 tahun 2012 PKW merupakan kawasan perkotaan yang  berfungsi  untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/ kota.

Beberapa hal itu sebenarnya bisa dilihat kasat mata misalnya menggeliatnya pembangunan infrastruktur; gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, jalan raya, taman kota dan seterusnya. Bahkan bila mana rencana Bandara Wirasaba tuntas, maka tak menutup kemungkinan Purwokerto akan menjadi Kawasan Pusat Kegiatan Nasional (PKN).

Bila dibandingkan dengan kota lain se Indonesia, besaran biaya hidup Kota Purwokerto berada di rangking 58. Sedangkan Jakarta menempati peringkat pertama, Rp. 7.500.726. Menyusul Jayapura pada peringkat kedua, Rp. 6.939.057. Sedangkan biaya hidup terendah di kota Probolinggo pada angka Rp. 3.295.045.

Sebagai pembanding,  biaya hidup di Cilacap mencapai Rp. 3.390.307. Sedangkan Tegal pada kisaran Rp. 3.314.997.

Biaya hidup ini dihitung berdasar pengeluaran rumah tangga yang terdiri dua konsumsi utama: makanan dan non-makanan. Rata-rata nasional, berturut-turut dari tahun 2002, 2007 dan 2012 konsumsi makanan adalah 25,50%, 19,57% dan 18,85%. Angka itu memperlihatkan tren menurun pada konsumsi bahan makanan. Meski demikian, pada beberapa kota, persentase konsumsi makanan masih pada kisaran 50%, seperti: Meulaboh, Tual, Merauke, Sibolga, Maumere, Sorong dan sebagainya.

Melihat tren konsumsi demikian, kita perlu mengingat Hukum Engel; 1). Bila pendapatan meningkat, persentase konsumsi makanan makin kecil. 2). Bila pendapatan meningkat, persentase pengeluaran untuk pendidikan, kesehatan, rekreasi, barang mewah, dan tabungan makin meningkat.

Ernst Engel juga pernah memotret pola konsumsi di negara berkembang. Ia menyimpulkan, bila konsumsi makanan lebih dari 35%, mengindikasikan masyarakat tersebut tergolong masih miskin. Sebalik-nya, bila konsumsi bahan makanan rendah, masyarakat mulai sejahtera. []

Sumber: Buletin Kopkun Vol. IV Edisi 31 Januari 2014

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam