Gula Merah

Sam Edi, Tak Takut Dimusuhi Tengkulak!

panen

Sam Edi yang saban hari bekerja sebagai karyawan di Kopkun punya kisah menarik. Berawal dari usaha jual beli gula kelapa ia berurusan dengan tengkulak. Salah satu daerah yang ia masuki adalah Desa Ketanda, Sumpiuh.

Meski usahanya terbilang baru, ia sudah dikenal beberapa petani gula. Laki-laki berputra satu ini keluar-masuk ke petani dan berkenalan dengan mereka. Alhasil, pada waktu tertentu, Edi, demikian akrab disapa, mengumpulkan 20an petani gula untuk pengarahan.

Apa yang pertama ia lakukan adalah mencari tahu sistem setoran gula kepada para tengkulak. Para petani pun menceritakannya.“Sistem jual beli sama tengkulak itu kayak utang. Petani ngutang sama tengkulak, bayarnya dipotong dari setoran gula. Jadi petani terikat terus sama tengkulaknya” tutur Edi.

Setelah beberapa kali musyawarah, Edi kemudian memberi tahu mereka, “Sebenarnya tengkulak itu membeli gula dengan harga yang sangat murah. Para petani tidak berani komplain, karena mereka terikat dengan hutang”. Edi menyimpulkan, pola inilah yang membuat petani gula selalu hidup miskin. Sebaliknya, tengkulak hidup sejahtera.

Rata-rata per minggu, tiap petani bisa menghasilkan 70-100 kg gula. Harga per kilonya di pasar saat ini mencapai kurang-lebih Rp 7.300. Jika kalikan, petani gula kelapa bisa berpenghasilan hampir 2-3 juta rupiah per bulan. Tentu angka ini lebih dari standar UMR Kab. Banyumas.

Kenyataannya petani tak pernah mengantongi pendapatan sebesar itu. Ya, tengkulak membeli gula misalnya hanya Rp. 6.300 per kilonya. Angka yang ditawarkan tengkulak kepada petani rendah, jauh dari harga gula di pasaran. Yang selisihnya bisa sampai Rp 1.000 per kilo. Padahal biaya pengemasan dan transportasi tidak setinggi itu.

Lalu apa beda usaha Edi dengan tengkulak lainnya? Edi membeli gula kelapa para petani dengan harga yang lebih pantas, Rp. 7.000. Ia menetapkan harga dengan melihat pasar yang itu disampaikan kepada para petani. “Biasanya saya minta petani yang membuat harga sendiri. Awalnya mereka bilang, terserah njenengan saja mas. Terus saya bilang, tidak perlu seperti itu.

Bapak-bapak tetapkan saja harganya. Tetap akan saya beli”, ceritanya. Model pembeliannya yang seperti itu sampailah di telinga tengkulak lain. Pada waktu tertentu seorang tengkulak menemuinya, “Mas njenengan modalnya berapa? Kok berani membeli gula dengan harga seperti itu?” Edi pun menjawab, “Pak saya tidak punya banyak modal. Saya cuma modal otak saja”. Apa yang dilakukan Edi praktis sudah mengganggu kenyamanan tengkulak yang bersangkutan.

Edi tidak takut. Sebaliknya justru semangatnya bertambah. Selain soal harga yang pantas, ia juga membuat model kredit petani gula lebih rasional. Contohnya, hutang petani pada tengkulak dipotong melalui hasil setoran gulanya. Sedangkan Edi menawarkan cara lain, yang prinsipnya hutang mereka tidak dipotong dari setoran gula. Jadi si petani akan menerima utuh pendapatan dari penjualan gulanya. Yang kemudian petani tersebut bisa mengangsur hutangnya kepada Edi. Di sisi lain, petani tetap punya sisa pendapatan untuk biaya hidup sehari-hari.

Program lain yang diterapkan Edi adalah dengan membagi hasil pendapatan jual-beli gula kepada para petaninya. Sederhananya ini seperti Sisa Hasil Usaha (SHU) di sebuah koperasi. Contohnya, setiap satu kilo gula petani akan memperoleh SHU sebesar Rp. 100. Nah, SHU tersebut akan dibagi setahun kemudian.

Pria asli Kemranjen, Banyumas ini berkata, “Sebenarnya cara usahanya hampir seperti koperasi. Semua suara didengar, harga yang ditawarkan lebih berpihak ke petani, ada pendidikan dan sosialisasi, bahkan ada pembagian SHU ke petaninya. Intinya usaha yang saya jalani ini harapannya bisa mensejahterakan petani gula. Bukan saya saja sebagai pengepulnya”.

Bila seperti itu, maka hasil yang diterima Edi sebenarnya kecil dibanding cara tengkulak lainnya. Lalu apa sebenarnya motivasi Edi. Ia menjawab, “Awalnya karena banyak teman yang nganggur dan ingin kerja. Lalu saya pernah dengar juga cerita tentang Paguyuban Perjaka yang dikelola dengan cara koperasi. Dan saya ingin petani bebas dari tengkulak agar mereka lebih sejahtera”.

Meski niatnya mulia, namun usahanya ini banyak menemui hambatan. Tak sedikit ia dimusuhi tengkulak-tengkulak di desa. Petani juga pikirannya belum terbuka menerima sistem baru yang ditawarkan Edi. “Ya tentu ini butuh waktu dan tenaga yang bisa membantu mendampingi mereka. Saya juga berharap semoga kader-kader Kopkun bisa terlibat melakukan pendampingan”, tuturnya.

Pria dengan senyuman manis itu menambahkan, “Rencananya ke depan saya ingin membuat program asuransi kesehatan, pensiun dan kecelakaan kerja. Terus kepikiran juga untuk membuat pelatihan tentang pengelolaan keuangan keluarga. Ya sebenarnya banyak hal yang ingin saya lakukan”, katanya dengan penuh semangat.

Bila kita refleksikan bisnis yang dijalankan oleh Edi ini bisa disebut sebagai bisnis-sosial. Ya, sebuah model bisnis yang tidak semata berorientasi pada laba belaka. Namun juga turut mengembangkan kapasitas petani yang terlibat di dalamnya. Secara jangka panjang bisnis ini akan lebih bermasa depan bagi kedua belah pihak karena berlandaskan pada mekanisme yang adil.

Walau sekarang usahanya belum untung dan baru beranggotakan 20 petani, Edi menargetkan 300 petani lainnya akan bergabung dalam beberapa tahun mendatang. Ia bilang, “Walau belum untung, aku tetep semangat, soale aku percaya mereka bisa lepas dan mandiri dari tengkulak”. [Reporter: Katiti Nursetya]

 

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam