Gula Merah

Bila Pasar Mengatur Dirinya Sendiri

gula kelapa

Bagaimana bila pasar mengatur dirinya sendiri? Adakah benar bahwa semua orang akan untung? Atau ada sebagian yang untung dan sebagian (besar) buntung? Luthfi Makhasin, Dosen FISIP Unsoed, menjawab pertanyaan itu dengan baik.

Dalam artikelnya, “Nasib Penderes dan Perajin Gula Kelapa di Banyumas: Jika Pasar (Dibiarkan) Mengatur Dirinya Sendiri” ia menggambarkan bagaimana kelompok penderes lebih sering buntung daripada untung. Ia mengisahkan, saat studi di Australia, ia pernah beli gula merah seberat 100 gr dengan harga $ 3,5. Itu artinya, kata dia, sama dengan 200 ribu rupiah untuk per kilonya.

Praktis gula merah yang ia beli diimpor dari Indonesia. Dan bisa jadi dari Banyumas, karena tercatat eskpor gula merah Banyumas sudah mencapai pasar Australia, Jepang dan Eropa. Padahal para tengkulak biasanya membeli gula merah dari perajin 5-6 ribu per kilo.

Cerita soal harga beli (sangat) murah dari para tengkulak sudah sering kita dengar. Bahkan itu juga dikisahkan Ahmad Thohari dalam novelnya Bekisar Merah. Sudah jadi rahasia umum di desa perajin gula, rumah para tengkulak/ juragan itu besar; Sebaliknya rumah si perajin, dari dulu sampai sekarang, kecil.

Ada kisah dari Cilongok, bagaimana seorang Mahwari yang sudah 20 tahun menjadi perajin gula, tak juga sejahtera. Sedang suaminya, saban hari 3-8 jam bisa naik-turun pohon kelapa. Tentu dengan tingkat resiko yang, bila jatuh, bisa patah tulang sampai mati.

Para penderes dan perajin itu sulit lepas dari tengkulak. Mereka diikat dengan hutang yang tak pernah bisa selesai diangsur. Jika hampir selesai, si tengkulak memberi hutang lagi. Dan masalahnya juga, para petani desa itu tak tahu persis mengapa selalu ada kucuran hutang buatnya.

Seperti juga yang dikisahkah Sam Edi, seorang pengepul gula yang menerapkan model fair trade, “Petani tidak pernah diberi tahu harga gula di pasar. Yang memberi harga ya para tengkulak itu. Dan mereka manut saja”, ujar Edi. Modus hutang yang mengikat itu lah pintu masuk pertama yang membuat penderes dan perajin tergantung dengan para tengkulak.

Selain hutang, hubungan antara penderes dengan juragan justru tidak transaksional. Sebaliknya, terlihat seperti hubungan patron-klien di masyarakat desa pada umumnya. Pe-nyebabnya karena banyak dari para tengkulak atau juragan itu adalah tokoh di desanya. Tak sedikit di antaranya sudah berangkat haji. Jadilah para penderes segan untuk menetapkan harga secara rasional (untung-rugi).

Nah, bila pasar mengatur dirinya sendiri, itulah yang muncul. Ketimpangan informasi membuat tengkulak bisa mereguk banyak keuntungan. Di sisi lain, informasi soal harga sengaja ditutup agar penderes/ perajin tidak menuntut.

Hal itu dibaca baik oleh Joseph E. Stiglitz, ekonomi dunia, yang menyoroti informasi yang asimetris/ timpang itu. Bahwa adanya informasi yang timpang, pasar tak akan pernah berada di titik equilibrium.

Bila pasar mengatur dirinya sendiri, maka para juragan/ kapitalis lah yang menang. Bila pasar tidak diatur, maka si pemilik informasi lah yang menang. Dan gula merah adalah buktinya. []

Sumber : Kopkun Corner edisi 32. download di https://www.mediafire.com/?tueg12jcrl44b5k

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam