Gula Merah

Geografi dan Bahasa

unite people

Ada humor di pelajaran geografi. Suatu siang di Sekolah Dasar, seorang guru memanggil muridnya, “Slamet, coba tunjuk mana benua Australia?” Slamet maju dan menunjuk pulau Kanguru itu. “Ya, betul”, ujar Si Guru. Guru, “Anak-anak, siapa hayo penemu benua Australia?” Serentak murid menjawab, “Slamet, Bu!”.

Ya , itulah humor yang sering beredar. Dan kenyataannya, hal itu sering kita jumpai. Misalnya seorang Guru bertanya, “Siapa penemu benua Amerika”, “Siapa penemu benua Australia” dan seterusnya. Bahkan bila kita sempat googling, ketiklah “penemu benua”, hasilnya satu juta entri.

Entri itu menggambarkan bahwa pertanyaan atau pernyataan “penemu benua” sudah kaprah dipakai. Tentu saja dari SD sampai kita SMP. Lalu apa masalahnya? Bukankah “benar” James Cook  penemu benua Australia? Atau Columbus penemu benua Amerika—penelitian sejarah terkini menyebut: Khaskhas Ibnu Sa’ied Ibn Aswad, datang lima abad sebelum Columbus.

Ini bukan debat soal siapa “penemu sejati” benua-benua di dunia. Namun mengapa kita gunakan istilah “penemu”, “menemukan” atau “penemuan”. Seolah benua itu tak pernah ada sebelumnya. Faktanya, ada suku Indian sebelum Columbus atau Khaskhas datang. Ada suku Aborigin sebelum Cook ke sana. Ada orang Afrika sebelum bangsa Boer (Belanda) ke sana. Singkatnya benua itu sudah ada dan bertuan.

Alhasil bahasa kita, yang menyebut momen itu sebagai “penemuan” sungguh tak berdasar. Justru sebaliknya, bahasa seperti itu menyimpan tabir gelap: mengapa hanya “si penemu” yang berhak mendefinisikan benua itu? Seolah keberadaan benua-benua itu ada hanya saat kesadaran bangsa Eropa, melalui penjelajahan samudera, berhasil menjangkaunya.

Nalar seperti itu yang disebut sebagai Eurosentrisme atau Orientalisme. Nalar yang menempatkan Eropa/ Barat sebagai pusat peradaban. Dan memberinya hak istimewa untuk mendefinisikan ini-itu. Dan sayangnya, nalar itu merembes ke bahasa Geografi kita.

Soal “penemuan” ini juga tak sepenuhnya indah, apalagi heroik. Sebaliknya, “penemuan” menandai babak menyakitkan bagi pribumi. Tengoklah sejarah apartheid di Afrika, yang muncul setelah Belanda singgah ke sana.

Lihatlah pula Perang Sipil di Amerika dan peminggiran Aborigin di Australia. Atau lihatlah sejarah kita, yang mana pasca “ditemukan” Belanda, pribumi jadi inlander.

Alih-alih sebagai prestasi gemilang, “penemuan” adalah momen kolonialisme atawa penjajahan. Dan di tengah peristiwa seperti itu, Nelson Madela lahir sebagai pribumi revolusioner. Perjuangan melawan politik rasisme/ apartheid ia lakukan sejak 1952-1991. Ia, berhasil. Mereka, berhasil.

Sosok Mandela mengingatkan kita bahwa nalar rasistik adalah salah. Dan sebangun dengan itu, nalar Eurosetrisme/ Orientalisme juga salah. Wajib kita dilawan![]

Sumber  :  Buletin Kopkun Corner Edisi 30 Desember 2013

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam