Gula Merah

Organisasi Naluri

banner diskusi

Oleh: Lukas Arimurti*

John Kenneth Galbraith (ekonom): “Kaum Konservatif modern hanya membungkus rapi salah satu upaya paling tua dalam filsafat moral, yaitu mencari-cari pembenaran moral yang kedengarannya lebih terhormat bagi naluri kepentingan diri yang sempit.”

Ada sesuatu yang terasa kekal tentang gugus naluri manusia, yang di atasnya berdiri sejarah peradaban. Tata Ekonomi, Tata Politik, Tata Hukum, dsb, menjadi sekedar kerangka kelembagaan untuk menyalurkan gugus-gugus naluri tersebut.

Diawali dengan Teori Kenegaraan (Statecraft) Plato (429-347 SM), filsafat kenegaraan dikuasai oleh agenda ‘bagaimana membentuk tatanan sosial dengan menjinakkan naluri-naluri gelap manusia (passion) di bawah komando nalar (reason). Naluri-naluri gelap dimaksud, adalah:

  • Nafsu akan kekuasaan
  • Nafsu akan uang/harta
  • Nafsu seksual

(Bukan berarti bahwa ketiga naluri tersebut pada dirinya sendiri buruk, tetapi bahwa derap ketiga naluri tersebut sangat mudah membabibuta, ganas dan menghancurkan tatanan sosial kehidupan bersama).

Proyek menjinakkan naluri-naluri gelap di bawah komando nalar ternyata tidak pernah sungguh-sungguh berhasil. Bukti konkretnya adalah konflik & peperangan berkepanjangan antara kaum Kristiani dan Islam dalam Perang Salib selama Abad Pertengahan, konflik dan peperangan antara umat Katolik dan Protestan dalam Era Reformasi, dan maraknya gejala riba pasca Revolusi Industri hingga saat ini.

Maka perlu digagas suatu siasat yang baru untuk membangun tatanan sosial kehidupan bersama. Diusulkan tiga buah cara:

  1. Affectus Comprime (tekanlah naluri). Proyek ini didasarkan pada gagasan superioritas nalar atas naluri. Represi naluri oleh nalar dilakukan melalui hukum, doktrin agama maupun kekuatan senjata.
  2. Berdasarkan asumsi bahwa naluri gelap manusia bersifat konstan (meskipun manusia juga bernalar),maka siasat yang perlu ditempuh adalah dengan menyalurkan naluri-naluri gelap tersebut sehingga berubah menjadi terang. Prinsipnya naluri gelap jangan direpresi tetapi gunakanlah dengan cerdik (Contoh konkret: industri keuangan maya).
  3. Mengadudomba naluri gelap yang satu dengan naluri gelap yang lain. Hal ini ditempuh sebagai langkah netralisasi dan perimbangan antar naluri gelap (Contoh konkret: Konsep Trias Politica atau pemisahan kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif).

Dalam hal penemuan gagasan di atas, nalar tidak lebih dari kemampuan memilah dan memilih nafsu-nafsu naluriah mana yang perlu kita ikuti untuk kebahagiaan bersama. Jadi, evolusi sejarah gagasan merupakan suatu penemuan gugus-gugus naluri baru dalam semesta naluri.

Machiavelli (1469-1597), berupaya meloloskan diri dari skema antropologi Plato, dengan menerima naluri kekuasaan sebagai perburuan kehormatan/kemuliaan.

Thomas Hobbes (1588-1679), juga berupaya meloloskan diri dari skema antropologi Plato, dengan menerima naluri kekuasaan sebagai hasrat bagi kelangsungan diri (survival).

John Locke (1632-1704), juga berupaya meloloskan diri dari skema antropologi Plato, dengan menyatakan naluri kekuasaan lebih terkait dengan hasrat perburuan kepemilikan harta.

Perubahan dari Hobbes ke John Locke tidak lain adalah perubahan dari hak atas kelangsungan hidup ke hak atas kepemilikan harta pribadi.

Montesquieu (1688-1755), dalam karyanya ‘Esprit des Lois’ (buku XX) menyatakan: “Keluhan Plato, ‘perdagangan membusukkan moralitas yang paling murni’ tidak terbukti, karena setiap hari kita menyaksikan bagaimana aktivitas perdagangan justru mampu memperadabkan orang-orang yang paling barbar sekalipun.” Pernyataan ini dikenal dengan istilah ‘le doux commerce’ (perdagangan yang memperadabkan watak manusia).

Kutipan lain dari ‘Esprit des Lois”: “Agar tidak terjadi penyalahgunaan ……, kekuasaan harus dinetralisir dengan kekuasaan.”

Jadi, penemuan gugus-gugus naluri baru dalam semesta naluri manusia merupakan hasil logis dari upaya para pemikir untuk menyusun tatanan sosial yang tidak didasarkan pada represi naluri oleh nalar, melainkan berdasarkan adudomba naluri gelap yang satu melawan naluri gelap yang lain.

Dalam konteks seperti di atas, nafsu pengejaran harta, yang menanggung stigma buruk dari filsafat dan teologi Abad Pertengahan, berangsur-angsur mendapat status terhormat, bahkan perlahan-lahan dilihat sebagai suatu keutamaan (virtue).

Dalam suasana sejarah saat itu, yang pekat dengan gelombang Monarki Absolut (naluri politik totaliter) dan perang agama (naluri fanatisme keagamaan), penemuan naluri pengejaran harta kekayaan (naluri ekonomi) menjadi siasat jitu untuk menjinakkan naluri politik totaliter dan naluri fanatisme keagamaan. Naluri pengejaran harta kekayaan, kemudian dipandang sebagai naluri gelap yang lebih tenang (doux) dibandingkan naluri kekuasaan dalam Monarki Absolut maupun naluri fanatisme keagamaan.

Dapat dipastikan bahwa Adam Smith (1723-1790), ketika menulis ‘An Iquiry Into The Nature and Causes of The Wealth of Nations’ pada tahun 1776, sedang meneruskan pencarian siasat ‘adudomba naluri’ untuk membentuk tatanan sosial yang lebih baik. Dalam buku itu, berakarlah paham ‘pencarian laba merupakan kepentingan diri yang tenang’ dan tercerahkan (calm and enlightened self interest). Melalui evolusi itu pula, istilah ‘kepentingan diri’ menjadi konsep keramat dalam Ilmu Ekonomi Modern.

Penerapan Gagasan Adudomba Naluri dalam Abad XX – Sekarang:

Berhadapan dengan gelombang besar fundamentalisme keagamaan dan kecenderungan otoritarianisme negara, Kaum Neoliberal melihat “aplikasi prinsip ‘pasar bebas’ (naluri akumulasi laba) di semua bidang kehidupan dan ke semua kawasan dunia”, sebagai senjata paling ampuh untuk mematahkan fundamentalisme keagamaan dan otoritarianisme negara.

Namun, siasat tersebut menanggung ‘cacat yang serius’. Bukan hanya karena kencangnya laju ‘fundamentalisme pasar’ justru dibarengi dengan fanatisme keagamaan yang semakin berkobar, tetapi juga karena keganasan naluri akumulasi uang justru berkembang semakin ekstrim sehingga meluluhlantakkan kemungkinan terbentuknya tatanan sosial yang baik. Perdagangan yang dianggap ‘memperadabkan watak manusia’ (doux commerce) justru tidak membuat manusia menjadi semakin peka, namun sebaliknya membuat manusia semakin ganas (tamak dan tidak peduli akan yang lain).

Siapakah oknum utama dari ketamakan dan ketidakpedulian akan yang lain, dalam sistem ekonomi global saat ini? Mereka adalah para baron keuangan dan perusahaan-perusahaan multi dan trans-nasional terkait. Mengapa mereka ini mampu meluluhlantakkan kehidupan orang-orang biasa? Karena mereka ingin membentuk kegiatan ekonomi dunia dan segala kegiatan lainnya sebagai ‘mekanika yang digerakkan oleh harga’ (price mechanism). Melalui teori dan kebijaksanaan, lobi dan paksaan, semua kelompok dan negara di bawah kolong langit, digiring masuk ke dalam orbit global kinerja mekanika harga tersebut.

Ada sesuatu yang ganjil dalam mimpi membentuk tata ekonomi dan keuangan sebagai ekuilibrium mekanika harga: Ketika tahun 1997, kawasan Asia Timur (termasuk Indonesia) diremuk krisis keuangan besar, kita tidak melihat akibat ganasnya pada negara-negara Eropa Barat dan Amerika Utara. Namun, ketika Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat terkena krisis keuangan yang dimulai tahun 2008, seluruh kawasan dunia terseret dalam keganasan dampaknya.

Pola ini mengisyaratkan banyak hal, tetapi salah satunya adalah fakta bahwa apa yang sebenarnya berlangsung bukan merupakan suatu mekanika perimbangan, melainkan penentuan kekuasaan ekonomi dunia oleh para baron politik keuangan di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat beserta dengan perusahaan-perusahaan multi dan trans-nasional pendukungnya.

Masih adakah alternatif bagi kita?

Alternatif harus diartikan bukan pertama-tama ditujukan untuk segera mengganti tata sosio ekonomi yang berlangsung selama ini, namun alternatif diartikan sebagai suatu gerakan menciptakan mekanisme-mekanisme lain bagi kehidupan sosio ekonomi yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh kinerja tata sosio ekonomi global dewasa ini. Alternatif, dalam hal ini bukan diartikan sebagai pelenyapan tata sosio ekonomi yang ada sekarang (hanya karena hal tersebut tidak mungkin terjadi dalam waktu yang singkat), melainkan dalam arti menciptakan kantong-kantong mekanisme proses sosio ekonomi lain, yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh mekanika sosio ekonomi global. Penciptaan kantong-kantong mekanisme sosio ekonomi alternatif tersebut menjadi satu-satunya siasat kolektif untuk bertahan dalam frekuensi krisis sosio ekonomiglobal saat ini.

Model yang paling cocok sebagai alternatif adalah pembentukan lembaga-lembaga sosio-ekonomi  berbasis komunitas yang bersifat co-operatif, karena nilai-nilai yang mendasarinya persis berseberangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam tata sosio ekonomi globaldewasa ini. []

* Penulis adalah Pengurus AKSES Indonesia. Tulisan ini merupakan kompilasi pemikiran B. Harry Priyono. Pengantar Diskusi “Menggagas Agenda Pemberdayaan Sosio-Ekonomi di Masyarakat” | Rabu, 4 September 2013 |  Kopkun 2 Lt. 2 Jl. Soeparno No. 2 Karangwangkal Purwokerto.

About Author: kopkun

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam