Gula Merah

Sketsa Hatta

hari buku

Oleh: Shinta Adjahri

Bukan sekedar lupan excited belaka jika kita katakan bahwa selalu ada kisah menarik yang terpercik dari tanah Papua, mutiara hitam di ujung timur Indonesia itu.  Sejenak mengingat di salah satu bagian Papua, adalah sebuah daerah seluas sepuluh ribu hektar , berawa-rawa, berhutan lebat. Hanya ada kapal motor untuk mengakses daerah terseut. Sepanjang tepian sungai dihuni berbagai suku pedalaman. Sarana kesehatan yang tentunya sangat minim. Tak heran jika penyakit malaria mengantarkan korban jamak pada orang yang ada di sana. Tanah penderitaan, tanah pembuangan, itulah Digul di era kolonial.

Boven Digul, dari kata “Boven” itu sendiri kita bisa tahu bahwa ini adalah daerah pedalaman. Daerah yang di zaman sekarang pun untuk mencapainya, kita harus melintasi hutan belukar. Boven Digul, yang kini disebut-sebut sebagai salah satu eksotika tanah timur Indonesia, perlu kita ingat pula bahwa di sana pernah dibuang seorang sosok pelaku sejarah negeri ini. Sosok yang dibuatkan monumennya, kita akrab menyebutnya Bung Hatta.

Satu hal yang istimewa dari seorang Digoelis Hatta, adalah kecintaannya pada buku. Digoelis adalah sebutan bagi orang yang pernah dibuang di Digul. Hingga ketika harus dibuang di Digul, yang dibawa oleh seorang Hatta adalah berpeti-peti buku. Satu kalimat yang beliau sampaikan,“Aku rela dipenjara, asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”.

Apa hubungannya buku dengan kebebasan? Apa hubungannya buku dengan kemerdekaan? Tentu saja orang-orang yang pernah membaca buku yang tau hubungan diantaranya. Sering kita mendengar slogan, “Membaca buku membuka cakrawala”. Ketika kita membuka lembaran-lembaran buku, saat itulah kita memulai membuka alam pikiran kita untuk berdialog dengan aksara. Satu demi satu alphabet yang terangkai dalam kata dan kalimat memasuki alam pikir kita. Dimana pada setiap manusia, tiap harinya memproduksi banyak kata di otaknya.

Semakin banyak interaksi aksara yang dilakukan seseorang, maka produksi kosakatanya semakin sarat. Kemampuan khas manusia ini (baca: berpikir) akan mengolah semua aksara ini ke dalam banyak hal. Buku atau dalam bahasa arabnya disebut sebagai kitab, mengantarkan kepada kita untuk melakukan produktifitas ide dan pemikiran. Membaca buku laksana kita berdialog, membaca adalah interaksi kita dengan kata. Aktivitas membaca seperti tampak diam, tapi yang bergerak aktif   adalah ide dalam otak. Di sanalah kemudian kreatiftas terpancing.

You are what you eat, you are what you read. Maka, siapa kita adalah apa saja yang sudah kita baca. Tanpa buku, kita ibarat tubuh tanpa asupan makanan. Kalau dibilang bahwa orang tak akan pernah bisa bicara perubahan kalau perutnya lapar, maka bukan sekedar perut yang harus kenyang melainkan otak juga perlu asupan gizi. Menyantap buku seperti kita menyantap sebuah makanan. Semakin bergizi sebuah makanan, semakin sehat tubuh kita. Maka semakin bergizi buku yang kita baca, semakin sehat pula pikiran kita.

Tak berlebihan ketika dibilang bahwa buku adalah tanda cinta. Bahkan Hatta menjadikan buku sebagai mas kawin saat pernikahannya. Buku itu sebuah harta yang tak ternilai harganya.

Alokasikan waktu, bukan menunggu waktu lung, untuk membaca barang 10-30 menit saban hari. Selamat hari buku! []

*Penulis adalah Pekerja Sosial di LAZIS MAFAZA, Purwokerto

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam