Sakti Manfaat

Kopkun Belajar di iCOOP Korea

Persis setahun lalu Kopkun pernah mengulas tentang iCOOP pada Buletin Kopkun Corner Edisi 13 Juli 2012. Dan pada tahun ini, diwakili Firdaus Putra, Manajer Organisasi, Kopkun berkesempatan melihat langsung iCOOP di Seoul Korea. Benarlah, kisah iCOOP bukan isapan jempol belaka. Melalui diskusi intensif bersama Ms. Juhee Lee, Bagian Hubungan Internasional iCOOP, kita jadi tahu mendalam bagaimana iCOOP itu.

Per April 2012, mereka memiliki 129 swalayan. Swalayan itu bernama Natural Dream Store. Menarik-nya, pada tiap swalayan akan dipampang nama-nama pendiri toko itu. Sehingga satu toko dengan yang lain bisa berbeda daftar namanya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi dan bukti pemilikan toko oleh anggotanya.

Di lantai duanya ada kafe, namanya Natural Dream Café. Tempatnya asik dengan desain utama natural dengan kayu kecoklatan. Sayangnya, hanya anggota saja yang boleh belanja atau nongkrong di toko atau kafe. Ini adalah kebijakan pemerintah Korea terhadap koperasi di sana. Ketika dikonfirmasi, Ms. Juhee mengatakan bahwa iCOOP sudah berupaya mempengaruhi kebijakan itu, namun gagal.

Di sisi lain, iCOOP tidak memberikan Sisa Hasil Usaha (SHU) per tahun pada anggotanya. Yang ada adalah anggota menerima diskon baik di kafe atau toko rata-rata sebesar 15%. Sebenarnya ini sama dengan SHU, hanya saja dibayar di depan.

Dalam konteks produk, apa yang dijual di toko atau kafe sudah melalui seleksi ketat. Ada tiga tahap seleksi yang dilakukan oleh Pengurus. Yang kemudian mereka membuat kriteria AAA, AA dan A pada tiap produknya.

Khusus produk yang mereka impor, misalnya kopi dari Timor Timur, gula dari Filipina, mereka lakukan dalam mekanisme fair trade. Sehingga baik di toko pun kafe, selalu ada logo fair trade pada produk tersebut.

Meski ada beberapa yang impor, sebagian besar produk mereka produksi sendiri. Seperti misalnya mie ramen yang mana mereka punya pabriknya di lembah Gurye.

Sedang produk pertanian, mereka lakukan kontrak dengan para petani yang memuat klausul tertentu, misalnya organik, bebas pestisida dan sebagainya. Ms. Juhee mengatakan meskipun sebagian besar koperasi di Korea menjual produk organik, hanya iCOOP yang secara langsung membuat kebijakan ethical consumerism untuk melindungi dan menjaga kesehatan anggotanya.

Soal pendidikan, mereka lakukan secara rutin. Bahkan per tahun 2012, mereka lakukan 8 ribu kali pendidikan dengan partisipasi mencapai 17 ribu orang. Pendidikan ini dilakukan pada anggota, pengurus dan manajemen.

Bahkan, untuk menjadi pengurus iCOOP, Ms. Juhee menerangkan, “Ada ujiannya. Jika gagal ya tidak bisa jadi pengurus. Dan mereka harus mengikuti lagi pendidikan perkoperasian”. Itulah kuncinya! []

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam