Sakti Manfaat

Kopkun Ikuti Workshop di Seoul Korea

Mewakili Indonesia, Kopkun hadiri workshop koperasi kampus se Asia Pasifik di Seoul, Korea. Workshop tahunan itu diikuti oleh delapan negara; Korea, Indonesia, Filipina, India, Jepang, Sri Lanka, Singapore dan Thailand.

Ada tiga isu utama yang dikaji dalam workshop pada 4-7 Juli 2013 lalu. Pertama, bagaimana prinsip koperasi bisa meningkatkan kesejahteraan koperasi kampus. Kedua, kerjasama internasional antar koperasi di Asia Pasifik seperti pertukaran mahasiswa antar kampus. Dan terakhir, partisipasi anggota koperasi dalam komunitas.

Sebelum mengkaji beberapa isu tersebut, beberapa panelis dihadirkan untuk memantik gagasan. Dr. Choi, dari Korea, mengurai bagaimana koperasi menjadi alternatif dari kapitalisme global dewasa ini. Ia memulai uraiannya dengan mengambil kasus krisis 2008 dengan ambruknya Lehman Brothers di Amerika.

Kemudian Prof. Shoji, Ketua Sub-komite Koperasi Kampus se Asia Pasifik, menyampaikan blueprint Cooperative Decade sebagai lanjutan dari International Year of Cooperative 2012 lalu. Dalam Co-op Decade yang ditargetkan sampai tahun 2020, ada lima hal yang menjadi kerangka gerakan. Pertaman, penguatan identitas koperasi. Kedua, partisipasi anggota. Ketiga, pembangunan berkelanjutan. Keempat, tata perundangan dan kelima adalah permodalan koperasi.

Dalam sesi country report, Firdaus Putra, Manajer Organisasi Kopkun, menyampaikan bahwa sejarah koperasi kampus di Indonesia relatif muda. Sehingga ia menyampaikan perlunya Indonesia membentuk federasi koperasi kampus sebagaimana di Jepang dan Korea untuk mempercepat pengembangannya. Hal tersebut dikaji dalam focus group discussion dan masuk dalam resolusi workshop.

Selain workshop, tuan rumah Korea University Cooperative Federation (KUCF), membawa peserta berkunjung ke Soengmisan Village. Bagi para aktivis, sosiolog dan peneliti sosial, pasti akan kagum dengan capaiannya. Sedikitnya ada 50 komunitas berbeda berkembang di desa ini. Pada beberapa hal, warganya memproduksi barang secara mandiri. Bahkan sampai saat ini mereka sedang menguji penggunaan local currency di desa itu. Jika dicari padanannya, desa ini nampak seperti Chiapas di Mexico sana. Wow. []

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam