Sakti Manfaat

Tyas Manunggal, Melampaui Indikator PEARLS (4 dari 4)

Indikator PEARLS yang dikembangkan World Council of Credit Union (WCOCU) kaprah dipakai oleh CU atau Koperasi Kredit di Indonesia untuk menilai capaiannya. PEARLS ini merupakan parameter komposit yang tersusun dari: Protection, Effective Financial Structure, Asset Quality, Rate of Return and Cost, Liquidity dan Signal of Growth (selengkapnya klik di sini). Sebagai pembanding bank-bank swasta menggunakan indicator CAMEL (selengkapnya klik di sini).

Bila PEARLS digunakan sebagai acuan utama, semua sub indikator itu sudah dicapai oleh CU Tyas Manunggal. “PEARLS sudah lewat kami, Mas”, ujar Mas Tanto. Namun hal itu tak membuat Pengurus puas. Sebaliknya justru makin gelisah ketika melihat data bahwa kontributor jasa terbesar adalah para peminjam yang kecil-kecil itu. Di sisi lain, anggota yang punya tabungan 20-50 juta ke atas cenderung tidak melakukan pinjaman. Sebaliknya, justru “menikmati” bunga/ jasa terhadap berbagai simpanan/ tabungan itu.

Data itu menggambarkan piramida distribusi manfaat yang timpang. “Akhirnya kami mikir PEARLS saja belum cukup. Kami lalu mengkaji data itu dan tahun ini membuat kebijakan berupa cashback bunga. Tentu tujuannya agar kontributor jasa yang besar itu menerima manfaat lebih besar”. Di sisi lain, mereka juga mengeluarkan kebijakan jasa/ bunga yang dibatasi untuk simpanan-simpanan sehingga tidak membebani koperasi dan tentu saja anggota.

Dalam kasus yang lain Mas Tanto mengisahkan, “Kemarin sebagian anggota petani kita gagal panen jagung. Akhirnya kami keluarkan kebijakan khusus terhadap pinjaman mereka. Mereka cukup mengangsur pokoknya saja, tanpa jasa. Kami betul-betul pingin hadir di hidup anggota. Jangan sampai mereka merasa sudah jatuh ketimpa tangga pula”.

Lagi-lagi apa yang dikembangkan Tyas Manunggal bukan sekedar “bisnis uang”. Namun sebuah usaha untuk mengembangkan komunitas kesejahteraan seperti yang mereka deklarasikan dalam visinya. “Yang harus besar itu anggotanya, Mas. Bukan hanya perusahaan koperasinya saja”, tegas Mas Jaiz. Dengan visi itu, Pengurus cukup percaya diri mengambil berbagai kebijakan yang responsif menjawab persoalan atau kasus tertentu. “Kebetulan kami punya software CUSS, data tersedia, sehingga kebijakan mudah diambil”, terang Mas Tanto.

Kebijakan yang lain misalnya adalah kompensasi bunga yang makin kecil bagi anggota yang angsurannya lancar. Setelah anggota melunasi pinjaman tertentu dan lantas mengajukan pinjaman berikutnya, maka diberikan jasa yang lebih kecil dari sebelumnya. Hal itu tentu menyenangkan bagi para anggota Tyas Manunggal yang memiliki usaha produktif. “Pinjaman atau kredit itu kan masalah karakter. Kalau mereka bisa mengangsur tepat waktu, maka karakternya bagus. Maka harus diapresiasi”, terang Mas Jaiz.

Dengan pola kebijakan yang seperti itu sebagian besar anggota Tyas Manunggal tak tergoda dengan adanya program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bunganya hanya 9%. Salah satu anggota yang rumahnya kami inapi saat itu mengatakan, “Saya nggak minjam KUR, Mbak. Saya lebih seneng di CU. Karena kalau di CU itu ya ada pendampingannya. Meski bunganya lebih tinggi daripada KUR”, terangnya.

“PEARLS ini kami lihat masih cenderung melihat pertumbuhan perusahaan koperasinya saja. Belum menyentuh ke masalah kesejahteraan anggota riilnya bagaimana”, kata Mas Tanto. Meski demikian Tyas Manunggal tetap menggunakan indikator itu. “Ya tetap kami pakai. Namun kami lengkapi dengan indikator atau pola kebijakan lainnya agar CU TM benar-benar di hati anggota”, sambungnya.

Sebenarnya kegelisahan Pengurus CU Tyas Manunggal mirip seperti yang ditulis oleh John Bamba dalam bukunya, “CU Gerakan Konsepsi Filosofi Petani”. Ia menulis bagaimana sebagian CU justru larut mengejar pertumbuhan dan melupakan kesejahteraan anggotanya. “Sehingga wajar bila sebagian kalangan mengkritik CU itu sama dengan Cuma Uang” tulisanya dalam buku itu. [Informasi ini ditambahkan sebagai pengayaan di luar kegiatan studi banding].

Di Tyas Manunggal, Pengurus membuat divisi yang namanya Sejahtera Anggota. Tujuannya adalah untuk merawat, mendampingi dan membina anggota agar sejahtera. Yang mana kesejahteraan itu mereka rumuskan indikatornya adalah: 1. Keluarga rukun 2. Memiliki rencana kebutuhan hidup 3. Tabungan meningkat 4. Angsuran lancar dan 5. Alam-lingkungan lestari. “Alam-lingkungan lestari yang paling dekat itu yang tubuh kita sendiri. Karena itu kami juga nguri-uri agar makanan yang dimakan anggota itu sehat. Percuma tabungan banyak tapi nanti kena penyakit karena makanan atau pola hidupnya tidak sehat. Begitu”, terang Mas Jaiz.

Untuk membangun kesejahteraan anggota mereka alokasikan dana pendidikan sebesar 200 juta tiap tahunnya. “Dana itu untuk fasilitasi berbagai pendidikan, pelatihan, pendampingan dan berbagai pertemuan anggota”, terang Mas Jaiz. Imbasnya dalam konteks CU Tyas Manunggal yang menyelenggarakan simpan-pinjam, kredit lalai nyaris nol. “Dari 1300 anggota peminjam, yang lalai hanya 5 orang. Dan hanya itu-itu saja orangnya”, sambungnya.

Tyas Manunggal benar-benar mewujudkan koperasi sebagai “himpunan orang”. Yang menjadi fokus perhatian adalah kebutuhan dan aspirasi orangnya, bukan uangnya. Berbagai kebijakan yang mereka kembangkan selalu berorientasi terhadap kesejahteraan anggota dalam makna peningkatan kualitas hidup itu. “Kami tidak bangga dengan SHU besar atau gedung lantai 4 ini, namun kami bahagia bila anggota kami sejahtera setelah gabung di CU. Paling tidak dari berdiri sampai sekarang, kami tidak pernah melakukan penyitaan aset. Bila ada gejala kredit macet, langsung kami dampingi. Ya hasilnya tidak jadi macet”, ujar Mas Jaiz.

Apa yang disampaikan Mas Tanto dan Mas Indri selaku Pengurus dan Mas Jaiz selaku Manajer dalam dua hari itu bukan isapan jempol belaka. Saat studi banding kami live in di 8 rumah anggota mereka dan kunjungan ke sekira 10 anggota mereka yang memiliki usaha. Dan kurang-lebih testimoni mereka menggambarkan apa yang disampaikan oleh Pengurus dan Manajemennya. Studi banding itu kami lakukan pada 15-16 November lalu bersama CU SAE, Purwokerto.

Kami benar-benar tercerahkan. Esoknya sepulang dari Bantul Mas Tanto kirim pesan, “Sepulang seko TM targetnya apa, Om?” Pertanyaan pendek yang jawabannya pasti panjang dan akan menghabiskan beratus laman untuk menjawabnya dalam aksi konkret, baik di Kopkun maupun CU SAE. Terimakasih Tyas Manunggal telah membagi kisahnya, keramahan tanpa basa-basinya dan keterbukaan tanpa sungkan dan segan. []

 

  • Bagian 1: https://kopkun.com/event/tyas-manunggal-koperasi-pemberdaya-1-dari-4.html
  • Bagian 2: https://kopkun.com/event/kader-halo-kader-yang-menghidupkan-2-dari-4.html
  • Bagian 3: https://kopkun.com/event/cuss-software-sosio-ekonomi-3-dari-4.html

 

About Author: kopkun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

adv bawah kotak
adv dalam